Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

ceritaku...

Ini hari namanya Rabu. beberapa hari lagi sudah waktunya untuk berangkat ke Mataram. Fisik pun sudah saya siapkan sedari beberapa minggu yang lalu. Meskipun beberapa minggu yang lalu juga semua rencana upgrading fisik terhambat oleh sakit demam/flu yang tak kunjung sembuh. Alhamdulillah sekarang sudah jauh lebih baik. Jogging pun sudah mulai rutin. Makan pun sudah enak rasanya. Tapi rasa-rasanya memang gak boleh terlalu 'digenjot' upgrading fisik ini, takutnya nanti saat hari H malah kecapekan. Jadi beberapa hari ini saya cuma jogging ringan saja yang kata teman saya mantan atlet Elbruss Stapala bahwa naik gunung itu yang harus diutamakan untuk pertama kali selain kesehatan adalah endurance nya.

Fisik memang sangat penting untuk kita yang akan melakukan pendakian. Endurance maupun latihan streght semuanya dibutuhkan memang. Hal yang kadang lupa diperhatikan oleh para pendaki yang biasanya terlalu sibuk untuk mengurus ijin, ittenerary, peralatan lapangan, logistik, dsb. Sehingga upgrading fisik malah terlupakan. Kedua hal diatas sama-sama pentingnya dan harus dipersiapkan dengan baik.

Nah..ngomong-ngomong soal peralatan lapangan tadi, ternyata setelah saya buka-buka laci-laci saya di kosan, ternyata alat-alat saya sangat kurang lengkap sekali. Mulai dari tas carrier sampai ponco pun tidak ada.
Mulailah saya hunting untuk mencari dan melengkapi alat-alat wajib yang akan dibawa ke gunung. Dimulai dengan mencari tas carrier. Harga tas yang cukup mahal bagi saya membuat saya memutuskan untuk meminjam saja dari teman Stapala, Mas Anom lah yang menolong saya. Tas sudah didapat, yang lainnya adalah trangia, gaiter, ponco, celana lapangan, kaos quick dry. Semua saya beli lagi kecuali trangia yang saya pinjam dari Pak Dosko, Stapala angkatan 2006. Alat-alat survival serta obat-obatan belum sempat saya beli. Mungkin beberapa hari ini saya akan lengkapi.

Untuk persiapan tim mungkin sudah bisa dikatakan 70 % siap. Tenda, alat masak, dokumentasi, obat-obatan tim, semua sudah dibagi tugaskan kepada para anggota tim. Yang terpenting sudah ada penanggung jawab dari tiap item barang yang wajib ada tersebut. Kemarin waktu diskusi di forum dengan anggota tim, malah sempat debat gak penting tentang tugas porter lah, kenapa dipanggil porter lah, kenapa gak guide saja lah, kenapa semua logistik harus dibelanjakan porter lah, dsb.... maklum kami sudah lama tidak mengadakan perjalanan bareng-bareng seperti ini semenjak lulus dari kampus sekitar 2 tahun yang lalu. Tapi semua itu InsyaAllah sudah teratasi. Untuk logistik memang kita yang belanja sendiri, tapi mungkin disana nya nanti kita akan dibantu porter/guide untuk persiapannya serta memasakknya. Dan karena ini mungkin akan menjadi peak season pendakian di Rinjani, maka porter/guide yang jalannya pasti akan lebih cepat dari kami bertugas untuk mencarikan tempat camp di lokasi camping nanti. Bukan apa-apa...cuma mempersiapkan agara kita memiliki tempat camp yang pas dan nyaman karena pasti akan sangat banyak tim-tim pendaki yang lain.

Jaga kesehatan, jangan sampai kecapekan karena olahraga, lalu alat-alat terus dipantau kelengkapannya. Hal utama sebelum berangkat ke dalam perjalanan yang sesungguhnya.

Blog EntryApr 23, '12 12:28 AM
for everyone
Weekend 21 April 2012 kemarin akan menjadi wiken yang akan selalu saya ingat. Beberapa peristiwa luar biasa terjadi disana. Seminggu yang menyibukkan gara-gara deadline 'kerjaan' pembuatan brosur dari the big boss yang kudu kelar menyebabkan kepala 'nyut-nyutan' gak karuan. Hari Jumat, 20 April 2012 sakit kepala mencapai puncaknya sampai-sampai saya ijin meninggalkan kantor untuk membeli obat ke Apotek dan beristirahat dikosan. Badan rasanya gak karuan, meriang, kadang panas, lalu dingin, lalu panas lagi. Setelah minum obat, Jumat sore itu saya langsung terlelap dikamar kos.

Sempat ragu apakah saya bisa lihat konser Dream Theater besok Sabtu nya, 21 April 2012. Konser yang sudah saya tunggu-tunggu sejak beberapa bulan yang lalu. Jumat malam alhirnya ritual kerokan saya laksanakan juga. Habis kerokan minum obat langsung tidur berharap besok bisa bangun dengan badan yang sudah fit.

Sabtu pagi ketika bangun ternyata kepala masih puyeng pas sarapan pun gak doyan. Habis sarapan yang gak doyan tadi akhirnya saya pake buat tidur saja sampai duhur. Dhuhur saya bangun, dan kepala ternyata masih juga puyeng. Sudahlah....saya tetap berangkat ke Ancol....demi DT.

Naik Taksi sama Wowok menuju ke MEIS ( Mata elang International Stadium ) tempat DT konser tar malem. Di taksi membaca kabar katanya Pak Wamen ESDM meninggal dunia saat mendaki Tambora. Innalillahi Wainnailaihi Rojiun. beliau yang jadi idola saya saat rame-rame nya issue kenaikan BBM beberpaa waktu yang lalu, beliau yang selalu 'disodorkan' oleh Pak Menteri ESDM untuk menghadapi media. Beliau Sang Professor di bidang perminyakan dengan rambut gondrongnya. sayang beliau pergi begitu cepat, ketika bangsa ini membutuhkan tenaga beliau untuk bisa lebih memaksimalkan manajemen energi di Indonesia. Semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah SWT. Amin.

Suasana di MEIS sudah cukup ramai. Dengan baju yang serba hitam dan muka yang gak terlalu imut sudah dapat ditebak mereka pasti akan menonton konser Dream Theater. Setelah menukarkan tiket ke panitia IDTFC saya dan Wowok makan siang dulu di Resto terdekat. Masih cukup lama konser akan dimulai. Open Gate aja pukul 7 pm, dan sekarang masih pukul 2 pm. Nyari musholla lalu kami tidur....hehehe

Mari Masuk MEIS

Antrian setelah solat magrib di depan gate utama sudah panjaaaaang betul. Dengan antrian yang sudah sepanjang itu gak akan mungkin lah saya bisa berdiri di depan Petrucci pas konser nanti. Yasudah pasrah saja saya berdiri di antrian belakang mengekor antrian depan. Dan masuklah kami semua kedalam MEIS, stadion indoor terbesar se Asia Tenggara. Konser dibuka oleh Andy Mckee dengan gaya khas memainkan gitarnya.

Konser DT diawali dengan lagu Bridges On The Sky, dan diikuti dengan lagu-lagu selanjutnya.

So far...konser berjalan lancar tapi mungkin sound nya agak kurang bagus yaa..entah karena kuping saya yang jelek atau memang sound nya benar-benar kurang bagus.

Blog EntryFeb 28, '12 4:49 AM
for everyone
Entah harus senang atau sebaliknya ketika saya bisa mengunjungi teluk di Lampung ini. Yang jelas kenapa saya bisa sampai disini merupakan cerita tersendiri yag gak akan pernah dipublish ditulisan saya manapun.

Kiluan merupakan sebuah teluk di Provinsi Lampung yang menjadi sangat terkenal akhir-akhir ini. Sebabnya sudah jelas bahwa teluk ini masih alami, bersih, ombaknya tenang, dan jernih airnya. Satu lagi yang menjadi tujuan utama para pelancong yang datang kesini adalah bisa menikmati Dolphin yang bermain-main di alamnya.

Jumat malam sekitar pukul 10.00 pm saya dan wegig sudah sampai di Pelabuhan Merak, Banten. Di Merak kami menunggu rombongan dari Bandung. Kak Melati, rombongan dari Jakarta, dan kawan-kawannya ternyata sudah berada di Merak menunggu di RM. Padang. Saya dan Wegig gabung sama mereka sekaligus makan malam sambil menunggu Kak Ika, dkk dari Bandung.
Rombongan dari Bandung akhirnya datang sekitar tengah malam tanpa ba bi bu lagi kami beranjak ke pelabuhan.

Sepanjang Bakauheni Ke Kiluan

Kapal kami merapat di Bakaueni, Lampung sekitar pukul 03.00 am. Kami sudah dijemput 3 mobil yang akan mengantar sampai ke Kiluan  Bay dengan menempuh waktu sekitar 6 jam perjalanan. Perjalanan darat yang akan cukup lama saya kira. Rombongan yang berjumlah 16 orang dibagi di 3 mobil, kijang kapsul, feroza, dan satu lagi apa ya..saya lupa. Suasana perjalanan awal masih gelap dan Lampung masih begitu sepi. Ide yang paling pas saat ini adalah melanjutkan tidur, selamat tidur kawan. Terbangun lagi ketika mobil berhenti di masjid, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 am. Sehabis solat subuh kami langsung melanjutkan lagi perjalanan. Masih gelap langit Lampung ini dan sekali lagi ide yang bagus adalah melanjutkan tidur di mobil. :)

Mata tebuka ketika mobil berhenti di pinggir jalan, langit sudah terang ternyata, dan jalan aspal ini tak selebar jalan yang tadi. Ternyata kami sudah mulai memasuki daerah yang lebih 'pinggir' lagi. Kami berhenti untuk sarapan nasi uduk di pinggir jalan. Kata guide yang menemani kami, disinilah biasanya para pengunjung sarapan, di depan Alfamart terakhir yang bisa kita lihat sebelum masuk ke daerah yang lebih 'dalam' lagi.

Semakin lama jalan yang dilalui semakin rusak saja. Mulai dari aspal sempit, lalu berlubang, lalu makadam, lalu benar-benar jalan tanah tak tertata. Inilah yang menjadi tantangan tersendiri para pengunjung yang ingin ke Kiluan. Menurut saya ada sisi positif dan negatif sebuah tempat wisata dengan akses yang kurang baik seperti ini. Jika akses terlalu baik, pengunjung akan semakin banyak dan ekonomi penduduk setempat otomatis akan semakin meningkat. Namun seiring datangnya pengunjung yang meningkat, saya jamin kebersihan tempat wisata juga akan lebih buruk lagi. Kenapa? Karena kita Indonesia. Bukan pesimis, tapi ya memang kita harus mengakuinya, meski gak semua orang yang gak peduli.

Setelah melewati jalan yang berkelok-kelok dan rada-rada rusak, akhirnyaaaa kami sampai juga di depan gapura bertuliskan “selamat datang di teluk Kiluan”. Gapura berwarna cerah ini adalah tanda kami sudah 'hampir' sampai di teluk kiluan. Dari sini teluk kiluan sudah kelihatan tapi memang jarak yang sesungguhnya tak sedekat jarak pandang mata. :)

Meluncur mobil kami di turunan curam setelah gapura tadi, mulai menembus lagi desa-desa di pesisir Lampung. Desa-desa disini termasuk unik, guide kami menyebut ada desa Bali, ada Desa Lampung. Disebut Desa Bali karena sebagian besar penduduk beragama Hindu ditandai dengan adanya tempat meletakkan dupa ato apalah namanya di depan setiap rumah. Desa selanjutnya adalah Desa khas Lampung yang ditandai masih banyaknya rumah-rumah adat seperti rumah panggung yang terbuat total dari kayu yang kata guide kami orang yang masih mempunyai rumah adat panggung seperti itu mempunyai derajat social yang lebih tinggi.

Lika-liku, bela-belok, turun sungai, naik lagi, serong kanan serong kiri….sampailah kami di pinggir sebuah pantai tanpa dermaga. Dari titik inilah kami akan berangkat ke penginapan di teluk Kiluan sisi yang lebih dalam ( bingung saya ngegambarinnya ). Jukung atau perahu kecil bermesin diesel kecil banyak bersandar di pinggir pantai. Jukung ini digunakan nelayan untuk mencari ikan, berkapasitas 3 orang penumpang. Kami diantar menuju penginapan menggunakan perahu yang lebih besar berkapasitas kurang lebih 10 an orang.

Cottage Abah dan Tosca

Siang yang sangat terik di Kiluan tetapi cuaca seperti inilah yang dicari saat kita di pantai. Sinar matahari full, lautan biru, serta pantai pasir putih, dengan warna tosca air laut di sekitaran pantai dibumbui dengan semilirnya angina menjadikan suasana yang luar biasa. Siang ini jadwal kami adalah snorkeling dan mengunjungi pulau laguna di seberang penginapan. Spot snorkeling ada di beberapa tempat, yang pertama kami mencoba di depan penginapan. Ternyata sangta disayangkan banyak karang yang hancur akibat bom ikan para nelayan. Namun hal itu sudah dilarang saat ini, ya..penegakan peraturan saat karang sudah hancur.  Puas snorkeling dilanjut makan siang di depan penginapan.

Pulau Laguna adalah sebuah pulau kecil di tengah Teluk kiluan tepat di depan penginapan kami. Siang itu setelah snorkeling dan makan siang kami mengunjungi pulau tersebut. Pantainya yang berpasir putih, laut pantai yang tosca, dan sejuknya pepohonan yang ada di pulau semua itu mendukung untuk diabadikan di dalam bidikan lensa. Spot untuk snorkeling pun ada disini tapi saya tidak mencobanya karena sudah terlalu nikmat tiduran di pasir pantai menikmati angin semilir dan langit biru ( lebay ).

Selamat malam Kiluan

Malam menjelang di Kiluan, sesorean tadi teman-teman sibuk dengan masing-masing ketertarikannya. Ada yang hanya tiduran di pinggir pantai, ada yang berkutat dengan lensa kamera dan jingganya senja, ada yang duduk-duduk di dermaga, ada juga yang membaca buku. Para crew sudah sibuk dengan ikan serta api untuk membakarnya di halaman penginapan. Saya mulai lapar lalu mengajak teman saya bantal duduk bercengkrama di pinggir pantai. Asap rokok yang keluar dari mulutnya diikuti dengan cerita-cerita yang perlahan membuka semuanya. Memang bukan manusia namanya kalau gak pernah memiliki masalah. Yang perlu diingat ketika mempunyai masalah adalah kita tak pernah sendiri. Berbagilah dan lihatlah pandangan yang lain dari sudut yang lain dan logika yang lain pula.
Angin seakan malas bertiup malam ini, perut cukup kenyang diisi dengan ikan bakar sambal kecap. Beberapa teman sudah bersiap untuk istirahat di dalam penginapan, beberapa masih asyik ngobrol di teras, saling becandaan lepas yang kadang tabu bagi sebagian orang. Saya memilih untuk merebahkan badan di kamar depan dam masih ada teman saya yang bercerita lagi tentang semua itu. Bersabarlah nah…dan selalu ingat kalimat ini..”transformation doesn’t tolerate mediocrity”  Angin yang malas bertiup tadi pun akhirnya diganti dengan hujan.

Dolphin mana Dolphin

Pukul 05.00 am kami satu persatu bangun dari tidur, bersiap diri untuk melakukan ritual yang utama dan paling ditunggu dalam perjalanan ke Kiluan ini, yaitu melihat dolphin bermain di lautan lepas. Lima jukung sudah merapat di pinggir pantai, tiap jukung akan diisi oleh 3-4 orang. Satu persatu jukung berjalan meninggalkan teluk kiluan menuju lautan lepas. Langit sedikit mendung di sisi timur. Semakin jauh jukung meninggalkan pulau, semakin deg-degan saya rasa, apakah kami akan beruntung bias melihat dolphin atau tidak.
Dan…akhirnya sekelebat ikan berwarna hitam muncul di kejauhan dan heiiiiii itu dolphinnya…jukung dipacu lebih cepat sama si akang, menuju ke titik dimana dolphin itu berenang-renang. Ternyata cara untuk melihat dolphin seperti ini, jadi ketika muncul dolphin, jukung lalu diarahkan menuju ke gerombolan dolphin tadi. Tapi kebanyakan ketika kami hampiri si dolphin jadi nyelem lagi ke dalam lalu tiba-tiba muncul lagi di tempat yang lain. Berbeda ketika yang muncul adalah ratusan dolphin, beberapa waktu yang lalu kata guide kami sempat ada pengunjung yang sangat beruntung bias melihat ratusan dolphin muncul ke permukaan dan saling lompat. Gak perlu lari sana lari sini pake jukung, cukup duduk tenang diatas jukung dolphin sudah bias dilihat di kanan kiri depan dan belakang.

Bias melihat gerombolan dolphin yang jumlahnya tak seberapa saja kami sudah sangat senang. Rasanya ‘sesuatu’ banget deh melihat mereka masih bias bermain-main di alamnya. Semoga sampai kapanpun mereka masih bias menikmati alam yang memang milik mereka ini.

Ternyata sudah 2 jam kami ‘berburu’ dolphin, saatnya kami kembali ke penginapan untuk bersiap pulang ke Jawa. Berharap semoga Kiluan Bay masih teruas alami seperti ini, sampai nanti, sampai mati Bumi ini…



   




 

Berawal dari sebuah obrolan di layar Gtalk di sebuah sore yang mendung di Jakarta antara saya dengan Devi. Devi yang ngajak ke Pangrango Bulan Maret yang saya 'plintirkan' untuk ke kegiatan yang lain saja ( karena memang cuaca yang gak tentu, ditambah lagi masih terngiang-ngiang cuaca saat ke Argopuro kmaren  ), akhirnya saya tawarkan untuk Happy Camp saja, Lumayan untuk menghilangkan rasa deg-deg kan yang entah kenapa akhir-akhir ini sering muncul di hati...

Berawal dari tawaran saya yang sebenarnya cuma "basa-basi" eh ternyata Devi adalah type orang yang gak pernah bercanda, smua dianggap serius Dari beberapa tempat yang saya tawarkan untuk happy camp, akhirnya dia memilih untuk ke Sawarna. Sawarna? Pantai? dengan kondisi cuaca seperti ini? yak...itulah pikiran saya saat itu. Setelah saya meyakinkan Devi ya akhirnya tetap saja pingin berangkat kesana. Okey kami berangkat. Saya, Devi, Yani, dan Enggar.

Sabtu, 11 Februari 2012

Sepagi ini saya sudah mejeng keren di pinggir SPBU Shell Suprapto, berharap Devi dkk tepat waktu untuk menghampiri saya agar bersama-sama bisa berangkat ke Kampung Rambutan. Setelah kurang lebih 40 menit akhirnya Devi datang juga, berangkatlah kami ke Kampung Rambutan. Kami memutuskan ke Sawarna via Pelabuhan ratu. Selain itu sebenarnya Sawarna bisa dituju melalui Serang-Malingping. Karena beberapa dan lain hal kami memutuskan untuk lewat Pelabuhan Ratu saja.

Pukul 7.00 am kami sudah berada di AgraMas jurusan Bogor, setelah berjalan kurang lebih 1,5 jam tibalah kami di Baranang Siang. Dari terminal ini kami melanjutkan naik MGI ke Pelabuhan Ratu dengan ongkos Rp 25.000,- untuk yang AC sedangkan yang non-AC berselisih Rp 5.000,- lebih murah. Pukul 12.00 am kami sudah sampai di Terminal Bus Pelabuhan Ratu. Bersyukur ketika kami sampai, ELF yang langsung menuju ke Sawarna belum berangkat. Dengan ongkos Rp 20.000,- kami bisa langsung menuju ke Sawarna dengan ELF ini. Setelah lunch tepat pukul 12.30 pm ELF kami berangkat ke Sawarna yang akan menempuh waktu kurang lebih 2 jam.

Pukul 02.15 pm kami sudah sampai di depan Jembatan Gantung kampung Cikaung Desa Sawarna. Masuk tanpa membayar ongkos retribusi karena kakeknya sedang tidur di Pos Kamling ( hehehe ). langsung kami menuju ke Homestay Widi yang sudah cukup familiar buat saya karena Oktober tahun lalu saya pernah nginap disini. Dengan Rp 100.000,00 per orang kami mendapatkan fasilitas kamar luas, makan 3 kali dengan lauk ikan laut, gorengan, es degan gratis.



Sehabis solat ashar sekitar pukul 04.00 pm kami berempat menuju ke Pantai Ciantir, suasa cukup ramai sore itu karena ada rombongan anak UI 4 bis yang sedang berwisata kesini. Sepuasnya bermain di Ciantir saya mengajak anak-anak untuk ke Tanjung Layar, icon nya Sawarna untuk menunggu sunset. yang dengan cuaca yang cukup cerah sunset akhirnya dapat kami nikmati keindahannya. Keindahan yang akan kami deskripsikan di hati kami masing-masing dengan bahasa yang berbeda-beda.



Minggu, 12 Februari 2012

Kurang rasanya kalau sudah di Sawarna tanpa menengok Goa Lalay dan Pantai Legon Pari. Goa Lalay ini adalah Goa Horizontal yang mengalir sungai di dalamnya,  berhubung ceritanya neh saya sebagai guide teman saya bertiga itu, dan guidee saja bertiga ingin sekali menengok Goa Lalay ya jadilah saya antar mereka kesana.

Suasana Goa masih sama seperti saya datang pertama kali dulu, Goa dengan air mengalir di dalamnya, tapi kali ini ditambah dengan penampakan sesosok anak ular python di pinggir dinding dalam Goa. Sempat ragu untuk lanjut jalan, karena dimana ada anak ular, disitu ada induk ular, dan ini adalah ular python, ular yang bisa menelan manusia mentah-mentah ( rada lebay... ).

Cukup di Goa Lalay ini, kami menuju ke Pantai Legon Pari. sebuah pantai yang Oktober 2011 lalu menjadi tempat saya dan 4 teman saya menggalau sebelum kami penempatan definitif instansi kami. Pantai ini sungguh sangat syahdu jika sore hari. Suasana yang tidak begitu ramai, pohon kelapa, ombak yang tak begitu besar, semuanya mendukung untuk menggalau ( curcol ).

Siang sekitar pukul 11.00 am kami bersiap untuk meninggalkan Sawarna. Kami pulang via Pelabuhan Ratu lagi tetapi kali ini kami harus ke Terminal Bayah dulu untuk mencari ELF menuju ke Pelabuhan Ratu.

Perjalanan yang sangat singkat yang semoga berkesan di hati kalian kawan...
Satu lagi dan yang terakhir....Tuhan memberikan kami cuaca yang sangat bagus ketika di Sawarna

.........................................................................................................................................

info:
  • Elf dari Sawarna yang langsung menuju ke Pelabuhan Ratu hanya ada 1 buah dg ongkos Rp 20.000,- per orang ( per Februari 2011 )
  • Jadwal berangkat dari Sawarna Pukul 06.00 am, jadwal berangkat dari Pelabuhan Ratu pukul 12.30 pm
  • Elf dari Pel.Ratu menuju ke Bayah ada banyak dengan ongkos Rp 20.000,-
  • Ongkos ojek dari Bayah ke Sawarna Rp 20.000,-
  • MGI dari Pel.Ratu ke Bogor terakhir sekitar pukul 05.00 pm
  • Jalan dari Pelabuhan Ratu ke Sawarna relatif lebih mulus dari pada via Serang
  • Waktu tempuh: Jkt >> Bogor 1,5 jam ; Bogor >> Pel.Ratu 4 jam ; Pel.Ratu >> Sawarna 2 jam ( waktu tempuh wajar )



Blog EntryDec 28, '11 2:08 AM
for everyone
Setelah pengumuman penempatan definitif November lalu, semua teman-teman seakan sudah menemukan dunia barunya. Sayapun sudah mulai menemukan ritme di tempat kerja saya yang baru, di Subdirektorat Perencanaan dan Pengembangan Sistem Aplikasi. Seminggu pertama mungkin masih terasa sangat asing di tempat baru, tapi hari ke hari mulai menemukan ritme juga akhirnya dan memang itulah hal yang utama yang harus dilakukan.
Minggu kedua di tempat kerja ternyata ada jadwal dinas luar yang harus dilaksanakan. Saya sebagai anak baru yang “gak ngerti apa-apa” dapat jadwal ke Manado dan Banjarmasin. Wow...dinas luar pulau yang pertama bagi saya dan bakalan menjadi pengalaman pertama saya untuk naik pesawat terbang ( cupuu.... ).

Akhirnya datanglah jadwal saya ke Manado tanggal 7 Desember 2011, bersama Mbak Emma dan Pak Oji. Garuda akan mengantarkan kami dari Jakarta menuju Manado di ujung Sulawesi. Rasa hati deg deg seer saat Garuda mulai take off meninggalkan landas pacu Soekarno-Hatta. Sumpah bener-bener seperti anak desa yang baru kali pertama naik pesawat ( lah...memang baru pertama kali to? ). Sekitar 3 jam di udara kapten pesawat memberi pengumuman bahwa sebentar lagi pesawat akan landing di Bandara Sam Ratulangi Manado. Jelas bandara ini tak sebesar dan semewah Soetta tapi menurut Kapten pesawat bandara ini sudah menjadi bandara internasional.
Manado merupakan kota dipinggir laut. Beberapa wilayahnya bahkan merupakan hasil dari pengurukan pantai ( reklamasi ). Wilayah itu sekarang dibangun beberapa pusat perbelanjaan besar. Kami menginap di Hotel Sedona di daerah Minahasa. Gunung Lokon terlihat di baliknya. Hotel yang berada di pinggir pantai ini mempunyai daya tarik tersendiri. Setelah urusan kantor selesai, hari Jumat malam kami diantar pegawai Kanwil Manado membeli oleh-oleh khas Manado apalagi kalau bukan klapetart. Sejenak di kota Manado tanpa Bunaken, tanpa tomohon, tanpa 3B juga...hihihi

Kota Seribu Sungai

Minggu berikutnya saya mendapat jadwal dinas ke Banjarmasin Kalimantan Selatan bersama pak Yusuf dan Mas Aris. Kota dengan banyak sungai ini menjadi kota kedua saya di luar jawa yang saya kunjungi untuk dinas kantor. Lebih exited lagi karena disana saya bertemu dengan Wisnu Herjuna, teman seperjuangan saya saat magang di Kanwil Serang dulu. Tiba di Banjarmasin hari Rabu, 14 Desember 2011. Melaksanakan tugas kantor yaitu sosialisasi Aplikasi baru. Tempat sosialisai adalah di Kanwil DJKN Banjarmasin di Banjarbaru. Hari jumat kegiatan sosialisasi selesai dilaksanakan. Saat itu Kepala Kanwil sedang dirawat di RS Martapura karena asma beliau kambuh. Kami sempat mengunjungi beliau sekalian pamit untuk esok harinya. Masjid Agung Martapura menjadi tempat kami untuk melaksanakan solat Jumat. Masjid yang cukup besar ini mempunyai halaman yang sangat luas. Berlantaikan keramik putih membuat silau para pengunjung yang sedang jalan diatasnya saat siang hari. Di tengah-tengah masjid ada beberapa pilar utama. Mungkin itulah pilar asli masjid ini sebelum dipugar untuk diubah menjadi lebih besar. Uniknya di pilar-pilar yang terbuat dari kayu itu ada ikatan bunga yang sengaja di ‘cantolkan’ di pilar itu. Bunga kenanga, melati, mawar, dsb di ikat menjadi satu tali lali ditaruh di pilar tersebut entah saya belum tau apa tujuannya.

Kami lunch di pasar Martapura di warung kecil dengan menu ikan bakar dan sambel. Nasi yang sangat tidak pulen disajikan, mungkin itulah khasnya disini. Berhubung sudah di Martapura gak afdol rasanya kalau gak jalan-jalan di Pasar Martapura tempat beragam pernak-pernik dari batu dijual. Mulai dari akik, cincin, anting, gelang, kalung, bros, dan sebagainya. Tak lupa kain khas Banjarmasin, sasirangan, di kios-kios sahabat sasirangan juga banyak disini. Saya membeli satu baju sasirangan dan kain sepasang untuk ayah ibu.

Selama di Banjarmasin saya sempat merasakan masakan khas kota ini diantaranya Lontong Haruan, Sop buntut nya warung Bahari. Tapi sayang sekali saya gak sempat merasakan soto banjar asli...hehehe

Selamat untuk yang pertama kali ini bagi diri saya sendiri
Semoga tetap bisa mengemban amanah rakyat dan tetap bisa jalan-jalan....


Jakarta
- diakhir Desember 2011 -


Blog EntryOct 4, '11 10:05 PM
for everyone
...banyak yang bilang kalau tempat itu adalah surga yang tersembunyi. Bahkan ada yang bilang kalau surga yang hilang. Kadang saya berfikir "ah..berlebihan deh sepertinya". Sampai pada weekend kemarin saya dan 4 teman saya mengunjungi nya sendiri dan ingin membuktikan apakah benar yang orang-orang katakan. Dan...inilah cerita saya.

1 Oktober 2011

Pagi ini kami sudah ada di terminal pakupatan serang. Bus Damri yang akan menuju ke Bayah Alhamdulillah blm berangkat. Ada 2 opsi untuk menuju ke bayah sebenarnya. Yang pertama naek elf ke malingping dulu lalu lanjut ke Bayah dan yang kedua naik bis Damri ini yang bisa langsung ke Bayah. Nico dan Slamet yang menyempatkan untuk sarapan dulu di terminal. Sekarang sudah pukul 6.09 am dan bis baru akan berangkat pukul 6.30 am. Itupun juga kata kondekturnya, entah  tepat waktu atau tidak. Dan ternyata benar, pukul 6.30 tepat bis sudah beranjak dari terminal. Tapi yah namanya bis perintis, keluar dari terminal ya ngetem lagi nyari penumpang.

Setelah melewati jalan rusak antara Serang sampai Malingping, akhirnya pukul 11.15 am kami sampai di pertigaan Bayah dan langsung dikrubutin ojeg. Berhubung saya sudah pesen mau dijemput yasudah akhirnya kami nunggu di depan Indomaret Bayah. Di perjalanan tadi sesaat sebelum sampai Bayah, ada daerah namanya Cibobos. Kata kondektur bis tempat ini dulu sering dibuat untuk buang mayat, dan dulu masih banyak begal motor dan korbannya dibunuh disini. Ngeriii gan...20 menit kami nunggu akhirnya jemputan datang juga, 4 motor untuk 5 orang. Di tengah jalan, motor yang ditumpangi Nico dan Slamet ban nya bocor.


Jembatan gantung dari kayu telah terlewati dan tandanya kami sudah masuk di kampung Cikaung Desa Sawarna. Tepat pukul 12.00 pm kami sampai di widi's homestay. Disambut langsung oleh Ibu Widi, kami dipersilakan masuk ke kamar kami yang ada di dalam rumah anaknya. 2 kamar untuk 5 orang, cukuplah dengan tempat tidur yang lumayan besar. Sejenak beristirahat makan siang pun sudah siap.

Menu siang ini adalah oseng kacang panjang, bakwan goreng, ikan bumbu pedas, dan sambal. Semua masakan itu sangat cocok di lidah Jawa Timur saya ( No Sara ), pedas dan asin...hmm.... Model makan di homestay ini adalah model prasmanan. Jadi semua tamu yang menginap di widi's homestay akan makan di tempat yang sama dengan menu yang sama dan self service.
Selesai makan dan sholat, sekitar pukul 1.30 pm kami berencana untuk menikmati spot-spot utama di Sawarna ini. Goa Lalay, Legon Pari, Tanjung Layar, Pantai Ciatir sudah membuat kami gak bisa menunggu lebih lama lagi. Ngobrol dengan ibu warung, katanya tarif guide 100.000, setdah mahal amat yak? Tawar menawar akhirnya Ibu Widi bilang "yaudah terserah mw dikasih berapa, nanti langsung dikasih ke Aji aja". Iya...aa’ Aji inilah yang akan menemani kami jalan-jalan di Sawarna. Guide sambilan yang baru kelas 3 SMK.

Jalan-jalan di Sawarna

Ada beberapa titik yang wajib dikunjungi jika kita di Sawarna ini. Goa Lalay, Legon Pari, Tanjung Layar, dan Pantai Ciantir adalah spot wajib para wisatawan. Tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Goa Lalay. Dengan menyeberang jembatan gantung kami keluar dari Kampung Cikaung. Menyusuri jalan aspal Desa Sawarna kurang lebih 500 meter setelah itu jalan berbelok ke kanan melewati rumah penduduk. Jalur menuju Goa ini juga melewati pematang sawah yang sayang banget pas kami kesana musim panen sudah selesai sehingga yang tersisa di sawah hanya bekas tanaman padi yang sudah dipanen. Kunjungan ke Sawarna memang lebih baik saat sawah-sawah penduduk masih hijau ber padi belum dipanen. Suasana hijau desa dikolaborasikan dengan pantai akan sangat segar dipandang.

  Sampailah kami di Goa Lalay, lalay artinya kelelawar. Goa horisontal ini pernah ditelusuri oleh Mapala UI selama 2 hari 2 malam bersama Pak Ade, suami Ibu Widi, tapi belum sampai ke ujung nya kata aa’ Aji. Hilman gak ikut masuk ke Goa Lalay ketika itu, entah karena takut gelap  atau entah karena takut sepatunya yang mahal itu kotor.

Setelah puas menikmati keindahan Goa ini, titik selanjutnya adalah Legon Pari. Legon yang menurut kami artinya adalah teluk ini merupakan pantai yang masih sangat bersih dan cenderung landai sehingga aman untuk berenang atau bermain air disini. Bukit Cimonyet memisahkan tempat antara Goa Lalay dengan Legon Pari ini jadi kita harus mendaki ke bukit ini dulu sebelum bisa sampai ke Legon Pari. Di sekitaran Legon Pari banyak ditumbuhi pohon kelapa yang oleh penduduk setempat dimanfaatkan buah nya untuk dijual langsung dan untuk membuat gula kelapa. Rumah-rumah kecil banyak berdiri disini sebagai 'pabrik' pembuat gula kelapa. Voila...Legon Pari

Pasirnya bersih, pantainya sepi, ombaknya sedang...dan inilah dia si Legon Pari. Dan memang benar jika banyak yang menyebut sawarna adalah hidden paradise / lost paradise, di Legon Pari ini aja suasananya sangat damaaaaaai karena masih sepi dan yang terpenting masih sangat bersih.  Langsung saja kami seperti anak kecil bermain ombak, bermain pasir, loncat-loncat, lari-larian, persisi seperti anak kecil. Entahlah...saya merasakan puas seperti itu. Meluapkan emosi yang total seperti anak kecil terkadang juga bermanfaat untuk orang yang sudah 'berumur'. hehehe.... jam menunjukkan pukul 04.00 pm, mas Aji sudah mengajak kami untuk segera menuju ke Tanjung Layar. Jalan menuju kesana masih jauh jadi kami harus jalan sekarang agar tidak ketinggalan sunset dari Tanjung Layar. Untuk menuju ke Tanjung Layar dari Legon Pari ini ternyata kami harus menyusuri pantai berkarang dengan ombak yang mulai membesar yang berkali-kali menghantam kerasnya batu karang. Jalan kira-kira 1,5 km setelah melewati belokan karang dari kejauhan terlihatlah seonggok batu tinggi runcing. "nah itu a' Tanjung Layarnya sudah kelihatan", kata Aa' Aji. Yap...LandMark Sawarna sudah terlihat tapi masih lumayan jauh.


Tanjung Layar di suatu sore...

Tempat ini dinamakan Tanjung Layar, semua orang pun akan mengerti kenapa tempat ini dinamakan demikian. Ada 2 buah monumen alam yaitu batu karang yang tinggi menjulang yang menyerupai bentuk layar sebuah kapal. Di belakang batu itu langsung menghampar lautan lepas Samudra Hindia, si laut selatan. Seperti melindungi Tanjung Layar, ditepi ujung pantai terdapat gugusan batu karang berbentuk pagar yang akan memecah ombak yang datang. Semua wisatawan lokal sudah hampir pasti akan mengunjungi tempat ini. Suasana yang khas laut selatan, antara karang, ombak, sunset dan pasir merupakan kombinasi yang pas untuk para fotografer mengabadikannya. Sore itu pun banyak orang yang sudah lebih dulu disana. Berfoto, menikmati ombak, bercengkrama dengan kawan, terlihat damainya sore itu. "priiitt...priiit" suara lengkingan peluit terdengar dari pinggir pantai, tangan orang tua melambai-lambai darisana, menandakan kami untuk segera minggir ke pasir. Memang saat sore adalah waktu saat air laut pasang dan saat itulah ombak akan semakin membesar tanpa peringatan. Semua yang ada di Tanjung Layar segera minggir ke pasir sekedar menghindari ganasnya ombak laut selatan.


Sunset Sawarna memang satu warna

Hari sudah menjelang senja, semua mata mulai tertuju ke barat. Point utama saat ini adalah melihat sunset dari Tanjung Layar. Siang tadi matahari sempat tertutup awan, bersyukurlah kami semua sore ini langit barat cerah dan matahari sepenuhnya terlihat bulat penuh. Lembayung senja hanya seberkas saja tapi nyala matahari senja sempurna. Inilah yang banyak ditunggu para pelancong di pantai manapun, sunset yang sempurna, tanpa awan, tanpa hujan.

Matahari sudah tak terlihat, pergi ke belahan dunia lain untuk memberi pagi ketika disini kami akan menyambut malam. Perlahan kami berjalan kembali ke penginapan sekitar 700 meter lagi menuju ke homestay menyusuri Pantai Ciantir. Langit pun sudah terlalu gelap tak mendukung untuk kami menikmati indahnya pantai, kami terus saja berjalan pulang berharap esok pagi bisa kembali ke pantai Ciantir menikmati sunrise nya.

Pagi, 2 Oktober 2011

Subuh sudah menjelang, satu persatu kami bangun dari tidur yang sangat nyaman tadi malam. Jadwal kami pagi ini adalah ke Pantai Ciantir yang kemarin belum sempat kami nikmati keindahannya.

Spot Ciantir dan Ombak

Di pantai inilah biasanya para bule surfing. Ombaknya yang besar adalah surga bagi para surfer. Telah sekitar 4 tahunan ini Sawarna ramai dikunjungi wisatawan dan orang-orang bule adalah yang pertama datang kesini karena tertarik ombaknya. Pagi ini kami sempatkan lagi mengunjungi Tanjung Layar berharap ada sesuatu keindahan yang baru yang disuguhkan pagi ini.
Cukuplah puas kami semua pagi ini menikmati keindahan Ciantir dan Tanjung Layar sekali lagi, segera kami pulang ke homestay untuk bersiap-siap pulang ke Serang mengejar Damri yang akan lewat Bayah pukul 11.45 am.

Terimakasih Sawarna, semoga bersihmu tetap terjaga, semoga mutiaramu tetap berkilau.

foto lengkap disini.

.....................................................................................................................................

Biaya yang dikeluarkan:

Bis Serang – Bayah ( Damri ) pp        : Rp 50.000,-
Penginapan Widi’s Homestay            : Rp 80.000,-
Ojeg Bayah – Sawarna pp                 : Rp 40.000,-
Retribusi masuk Sawarna                  : Rp   2.000,-
Retribusi Goa Lalay                           : Rp   2.000,-
Guide fee ( Rp 65.000/5 org )             : Rp 13.000,-
Total                                                : Rp 187.000,-


Tips:
  • Bis Damri berangkat 3 kali dari Serang ( Terminal Pakupatan ) yaitu pukul 5 pagi, 6.30 pagi, dan sekitar pukul 12 siang dengan ongkos Rp 25.000,- sampai ke pertigaan Bayah.
  • Jika anda berdomisili di Jakarta, lebih recommended untuk lewat jalur Bogor – Pelabuhan Ratu – Sawarna, karena akan lebih dekat dan jalan juga lebih bagus.
  • Widi’s Homestay adalah Homestay kedua yang didirikan di Sawarna. Ada beberapa Homestay memang disana. Pintar-pintar saja menawar, biaya yang ditawaran pertama mungkin Rp 100.000,- per orang dengan 3x makan. Tawar saja dikisaran 70 – 85 ribu. ( data per Oktober 2011 )
  • Biaya guide dari homestay sih pertamanya Rp 100.000,- sehari tapi bisa ditawar. Kalau bisa sih nawarnya jangan sadis-sadis  ya…kasihan juga aa’ nya.
  • Yang terakhir…jangan buang sampah sembarangan…!!!

Blog EntrySep 29, '11 12:23 AM
for everyone
Lanjutan dari cerita Perjalanan Pulau Tidung....

Sore itu pukul 04.00 pm saya sudah sampai di kos nya Wowok. Istirahat sejenak, sholat, ngopi file foto-foto di Tidung. Beres sudah semuanya saya minta Wowok dianter ke Senen. Naik bis P100 ke Kebon nanas lalu dilanjut naik bis lagi ke Serang. Mungkin teman-teman yang lain sekarang sudah sampai di kosnya masing-masing.

P100 masih ngetem di depan Stasiun Senen, dengan penumpang yang hampir penuh. Bis ini terlihat tak seperti bis yang layak. Karatan, kaca jendela yang bolong, kursi yang jebol sana-sini, dan yang lainnya. Tapi kelebihan bis ini adalah kencangnya saat berlari di Tol Jakarta, ngeriiii….!!! Dengan ongkos Rp 3.000 bis ini dapat mengantarkan saya dari senen ke kebon nanas cukup dengan waktu setengah jam saja.

Pukul 06.00 pm saya sudah di kebon nanas, langit sudah gelap, angkot, bis, banyak yag ngetem tak beraturan di bawah jembatan penyebrangan. Saya sempatkan membeli okky jelly drink dan gorengan sambil menunggu bis menuju Serang. Satu tempe goreng sudah habis, saya ambil lagi satu bakwan goreng. Ada beberapa bis tujuan Serang yang sudah lewat tapi saya tak acuhkan saja. Niat saya sih menunggu bis Arimbi AC Ekonomi yang lumayan nyaman buat tidur. Bakwan goreng sudah habis separo, Arimbi pun lewat juga. Sedikit berlari saya kejar Arimbi dan hap…masuk ke dalam bis.

Duduk di kursi nomer 3 di belakang sopir di dekat suami istri dengan anaknya yang masih berusia kira-kira 4 bulan. Agak rewel tuh anak kecil saya cuek saja dan berusaha untuk langsung memejamkan mata lumayan untuk bisa tidur sampai Serang. Bukan bis Indonesia kalau gak ada pengamen di dalamnya, seperti juga bis ini, pengamen pertama sudah mulai beraksi menyanyikan lagu Munajat Cinta nya The Rock feat Ahmad Dhani. Duet antara ibu dengan anak kecil nya ini terdengar pekak di telinga…hehehe. Show pertama usai, dilanjutkan artis jalanan yang kedua, kali ini adalah penyanyi cowok solo bergitar, bukan satria bergitar lhoo yaa. Seperti halnya para pengamen jalanan sebelum memulai bernyanyi pasti diawali dengan kata-kata sambutan layaknya pidato…”yaaa untuk para penumpang yang akan menuju Bekasi dan sekitarnya, disini kami hanya ingin menghibur….bla bla bla”

Dan…JLEEBB…kalimat yang baru saja diucapkan sang pengamen terdengar sangat asing di telinga saya, “HAH…BEKASI?” Astagfirullah, saya salah naik bis deh kayaknya. Dengan muka innocent saya tanya ke penumpang di sebelah saya, “Pak, ini bis jurusan mana ya?” “Bekasi timur dek”, jawab tuh Bapak. “emang mw kemana dek?” tanyanya, “hmm…Iya, Bekasi pak” dengan lagal sok cool saya menjawab.

Sial ternyata bis Arimbi ini yang jurusan Bekasi, bukan ke Serang. Huuuftt…bukannya ke barat eh malah balik ke timur lagi dah. Berfikir sejenak, lalu sms temen yang anak Bekasi nanya-nanya enaknya turn dimana biar bisa naik bis balik ke Serang lagi. Jatibening lah akhirnya tujuan saya, turun di pintu tol, nyebrang ke pintu tol arah berlawanan dan nyari bis jurusan Serang lagi. Huufft…!!!

Jadi inget lagunya /rif yang “salah jurusan”.


Blog EntrySep 27, '11 4:09 AM
for everyone
Muara Angke, 23 September 2011

Pagi ini suasana kampung nelayan sudah ramai. Aroma khas menusuk hidung pun bisa menembus ke dalam taxi yang saya tumpangi bersama Susilo dan Arma. Wowok, Fery, dan Mas Fajar ada di satu taxi yang lainnya.  Ani, Rintik, dan Nindi sudah menunggu di Angke. Bersembilan kami akan menikmati suasana Jakarta sisi lautan. Pulau Tidung...ya...di kepulauan Seribu sisi utara Jakarta.
Setelah check pasukan selesai kami diantar guide menuju kapal yang akan kami tumpangi menuju Pulau Tidung. Kapal sudah riuh dengan penumpang, jam sudah menunjukkan pukul 6.41 am. Tapi pun belum menunjukkan tanda-tanda akan berangkat. Entah apa yang ditunggu.
Ketika  jam menunjukkan pukul 6.59 am, kapal sudah berputar, bergerak sedikit demi sedikit. Deru mesin diesel tak terdengar keras dari atas sini. Tak seperti kapal di trip krakatau dulu. Dan.....kami datang Tidung.

Gelombangnya biasa saja, tak seperti di selat sunda saat trip krakatau beberapa bulan lalu. Atau mungkin karena kapal ini lebih besar dari yang dulu sehingga hantaman gelombang lebih tak terasa. Sambil membunuh kebosanan di tengah lautan, kami, Arma, Wowok, Mas Fajar, Nindi, Ani, bermain kartu tepok nyamuk dan cangkulan. Waktu menunjukkan pukul 8.22 am, tadi sudah melewati beberapa pulau tapi gak tau apa namanya. Gugusan kepulauan seribu memang. Mas Fajar yang tadinya tenang tiba-tiba gelisah. “Wok..ada toilet gak di kapal ini?” oo..ternyata dia kebelet ke belakang. Setelah mengecek di ruangan bawah ternyata toilet tidak disediakan di kapal kayu ini. Solusinya? Yah….botol Aqua lah yang menjadi penyelamat. Sambil menunduk-nunduk di sisi kanan kapal, dia dengan berkonsentrasi “mengepaskan”  senjatanya dengan lobang botol Aqua. Konsentrasi tingkat dewa dibutuhkan agar ‘tembakan’ nya pas masuk ke dalam botol, karena hantaman gelombang laut terkadang menggoyang kapal ke kanan dan kiri.

Pulau Tidung

Sekitar pukul 10.00 am kapal sudah bersandar di dermaga Tidung. Langsung kami menuju home stay menggunakan sepeda yang telah disediakan. Home stay  kami bernama Charly's Homestay. Ada 4 kamar tidur kapasitas 2 orang, 2 kamar mandi, 2 galon aqua, Tv, kipas angin. Ada 3 kamar yang memakai AC.
Saat kami datang di ruang tamu sudah disediakan lunch dengan menu bandeng bumbu pedas, tahu, capcai, pisang, kerupuk. Setelah pembagian kamar kami langsung saja makan siang di ruang tamu. Sebenarnya ada jadwal jalan-jalan keliling pulau setelah makan siang ini. Namun melihat kondisi akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat saja di penginapan sambil mempersiapkan diri untuk jadwal snorkling nanti sehabis Dhuhur.


Snorkling…cebur-cebur

Matahari sudah tergelincir, pukul 12 lewat sudah ditunjukkan jam dinding di ruang tamu, Mas Hendrik pun sudah bersiap di teras. Setelah pembagian life jacket dan mencoba ukuran sepatu katak, kami bersiap menuju dermaga untuk pergi ke spot pertama snorkling.


Titik pertama ini berada di perairan dangkal Pulau Air. Terumbu karang disini tak sebagus di legon cabe saat trip Krakatau dulu, ikannya pun tak sebanyak disana. Satu jam snorkling disini kami pun berpindah ke titik kedua. Titik kedua berada di perairan dangkal Pulau Payung. tak begitu berbeda dari titik sebelumnya, terumbu karang disini tak sebagus di Legon Cabe. Entah karena saya nya yang gak bisa menikmati terumbu karang atau memang begitu keadaannya disini. Puas bersnorkling kami sebentar berkunjung ke Pulau Payung. di pulau ini ada berderet warung yang menjual bakso dan mie ayam. Kami sempatkan untuk makan di salah satu warung dengan menu mie ayam bakso dan bakso urat. Rasanya? Hmm…jangan ditanyakan deh. Cukuplah untuk sebuah warung di tengah laut jawa di sisi utara jauh Jakarta ini. Hehehe….

Jembatan Cinta

Saat kami sampai di Pulau Tidung lagi hari sudah temaram hampir gelap. Wowok mengajak kami untuk sekalian mengunjungi jembatan cinta, sekalian mau loncat dari atas jembatan katanya. Sudah gatal kakinya buat loncat 7x sambil nyebutin nama gebetannya agar tembus tuh mitos disana. Hehehe….Hup…hup…huaaaa…byuuurrrr….meloncat juga tuh anak entah sambil nyebutin nama gebetannya atau nggak. Saya menyusul setelahnya…byuuurrr… meloncat dari atas jembatan dengan ketinggian kurang lebih 5 meter.

Malam di tanah Tidung

Malam ini jadwalnya adalah menikmati barbeque di tepi pantai. Pukul 08.30 pm mas Hendrik datang ke penginapan untuk menjemput kami. Ternyata sesampainya kami di tempat bebakaran di tepi pantai, barbeque nya diganti dengan ikan bakar bumbu kecap. Ditemani semilir angin pantai Pulau Tidung kami bersembilan menikmati ikan bakar yang sedikit gosong ini. 3 meja panjang, 1 meja bundar ada di tempat itu. 2 kelompok wisatawan juga berada disana menikmati sama seperti apa yang kami nikmati. Lampu kelap-kelip dihiaskan di pohon di tengah meja bundar tadi. Lagu-lagu dari Bob Marley mengalun dari sound system di samping tempat kami duduk. Beberapa guide sibuk membakar ikan, ada yang merokok, ada juga yang ngobrol duduk-duduk di kursi panjang di tepian pantai. Cuaca malam itu cukup cerah, bintang bertaburan bisa terlihat. Sepertinya kombinasi malam ini yang paling pas adalah angin pantai, ikan bakar, dan kartu remi.

Di meja panjang kami bersembilan bermain kartu dengan permainan ‘cangkulan’, entah apalah nama baku permainan ini. Yang kalah? Hukumannya adalah diolesi coklat di mukanya atau meniup lilin dengan hidung….hehehe. Fery dan Mas Fajar menjadi ‘bintang’ malam itu.
Malam sudah larut kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Di penginapan permainan kartu dilanjutkan sampai sekitar pukul 00.30 am. Ngerumpi, ngobrol kesana kemari menghangatkan suasana malam itu. Kenangan masa SMA, rahasia masa SMA, sedikit terbuka malam itu, dan semakin menjelaskan bahwa masa itu memang masa yang paling indah. (untuk hal yang indah juga ya? Hehehe )

Minggu, 25 September 2011

Melepas Tidung

Minggu pagi sudah datang, jadwal hari ini adalah jalan-jalan di pulau ini sebelum kami jam 12.00 pm nanti harus kembali ke Jakarta lagi. Sepagi tadi berjalan kami menyusuri Jembatan Cinta antara Tidung besar dan Tidung kecil. Jembatan sepanjang kurang lebih 500 meter berbahan kayu itu sudah cukup rusak disana sini. Tapi meski begitu masih tetap layak untuk digunakan. Spot terbaik disini adalah jembatan cinta. Banyak yang nyebur dari jembatan setinggi kurang lebih 5 meter. Saya? Sudah nyebur kemarin abis snorkling di pulau air dan pulau payung.


Pukul 12.04 pm

Dermaga sudah ramai siang  ini, maklum jadwal penyebrangan dari Tidung ke Muara Angke ya siang ini aja. Kapal kayu pun sudah berjajar bersanding satu dengan yang lain. Kami naik di salah satu kapal yang sudah ditunjukkan Mas Hendrik, guide kami. Jakarta kami datang lagi....!!!

Nice Journey with all of you guys…
 


Blog EntryMar 28, '11 11:11 PM
for everyone
Tak taulah apa yang dipikirkan H.W. Daendels ketika pertama menginjakkan kaki di Anyer dan berangan-angan untuk membangun jalan raya Pos yang membentang dari anyer sampai Panarukan yang berjarak lebih dari 1000 Km. Yaaa...mungkin alasan yang dia pikir adalah untuk membendung perlawanan dari Inggris. Namun, ribuan nyawa rakyat Indonesia saat kerja paksa membangun jalan tersebut jadi tumbalnya. Memang tak bisa dipungkiri pembangunan Jalan Raya Pos itu menumpahkan ribuan nyawa. Jalan yang dibangun dengan darah rakyat Indonesia, tetapi Jalan ini pula yang saat ini menjadi salah satu denyut nadi perekonomian khususnya di Pulau Jawa.

Perkuliahan semester ganjil telah selesai buat Ayu Adi Justicea, dan masa liburan 3 minggu telah menanti. Selama 2 minggu ternyata tak ada kegiatan keluar yang dia lakukan, akhirnya saya mengajak dia untuk liburan ke Serang. Seperti biasa, semua diawali dengan meminta ijin dari orang tua, dan seperti biasanya lagi ternyata tidak diijinkan oleh Ayah tercinta...
Minggu terakhir liburan ada kegiatan bongkar-bongkar kamar di rumahnya dan jadilah itu sebagai kartu truff yang sangat manis. Dengan restu dari orang tua akhirnya Ayu jadilah berlibur ke Serang. Kenapa Serang? Karena saya sedang bekerja di Serang ( yaa...istilahnya mah liburan sambil nengokin gw )

Hari itu hari Jumat sore hari tanggal 25 Maret 2011 ketika Ayu datang. Kami merencananakan untuk memulai trip ke tempat-tempat disekitaran Serang hari Sabtu nya saja jadi Jumat ini buat istirahat saja. Sabtu pagi setelah selesai sarapan kami memilih untuk jalan-jalan ke sekitaran pantai Anyer. Selama saya 4 bulan bekerja di Serang belum pernah sekalipun pergi ke pantai yang namanya cukup tersohor ini. Akhirnya kesempatan itu datang juga dan sama Ayu.

Pantai Anyer

Pantai ini mungkin pantai yang paling tersohor namanya di sekitaran Banten. Letaknya sekitar 160 Km arah barat Jakarta. Bisa ditempuh selama 1-2 jam dari Kota Serang. Pantai Anyer ini terletak di Kabupaten Serang, Provinsi Banten. dari Kota Serang kami memilih lewat jalur Tatakan / Gunung Sari karena menurut penuturan teman-teman saya yang asli Serang jalur disini sangat nyaman, asri, rindah, dan segar. Dan ternyata informasi itu benar, jalur menuju Anyer via Gunungsari memang rindang dan segar. Di sepanjang jalan di kanan kiri kami banyak pepohonan hijau. Jalannya pun relatif sepi dan bagus. Saya rekomendasikan untuk para pengunjung yang dari Jakarta untuk lewat jalur ini. 
Jalur ini nanti akan ketemu dengan Pasar Anyer dan selanjutnya kita berbelok ke arah kiri. Ikuti saja jalan beraspal ini karena di kanan kita sudah merupakan pantai dan banyak hotel, villa, dan spot-spot untuk peristirahatan. 

Saya dengan Ayu memilih masuk ke spot Mercusuar Anyer. Dengan membayar tiket masuk Rp 5.000,00 untuk motor ( gak tau deh kalo mobil ). Kami memilih duduk di sebuah gubug / saung yang biasanya dipakai jualan, tetapi ketika kami kesana kebetulan sedang kosong, jadilah kami duduk-duduk santai disana. Kami membawa nasi bungkus yang kami beli di Serang sebelum berangkat. Maklum...duit kami memang terbatas sehingga semaksimal mungkin memanfaatkan duit yang minimal ini. 

Dua bungkus nasi kuning kami santap bersama di tepian pantai yang sedang pasang airnya. Deburan ombak silih berganti menghantam karang dan bebatuan yang memang ditata untuk mekindungi pantai dari abrasi. Cipratan air terkadang mengenai kami. Siang itu nyaman, angin semilir, cuaca cerah meski langit tak sebiru aslinya. Kesederhanaan yang kami rasakan berdua. 

Setelah cukup menikmati suasana pantai di gubug ini. Kami tertarik untuk melihat-lihat Mercusuar Anyer yang berdiri setinggi 75,5 meter ( google ). Mercusuar ini berada satu kompleks dengan gubug tempat kami beristirahat tadi. Di sekitaran mercusuar ini juga ada beberapa rumah-rumah yang mungkin juga disewakan untuk umum.
Mercusuar ini bertuliskan tahun 1818, berwarna cat putih yang di beberapa bagian sudah mengelupas, memperlihatkan lapisan cat yang lebih tua. Sayang sekali ketika itu mercusuar tidak dibuka sehingga kami tidak bisa masuk untuk naik ke puncaknya. Di atas sana ada lampu berkekuatan 1000 watt yang digunakan untuk memandu para nakhoda yang sedang berlayar malam hari di selat sunda. Dari mercusuar tadi kami berjalan ke arah barat sekitar 50 meter. Tepat ditepi pantai ada prasasti batu buatan bertuliskan "0 KM Anyer - Panarukan 1806 AKL". Ya...inilah titik 0 KM jalan raya pos (  De Groote Postweg  ) yang dibangun oleh H.W. Daendles yang sangat fenomenal itu.  Pelajaran sejarah SMP yang hanya saya dengar tentang Anyer - Panarukan akhirnya sekarang saya sedikit melihat bukti nyata nya secara langsung disini. Setelah bernarsis ria di depan kamera poket kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Karang Bolong.

Go To Karang Bolong Beach

Dari mercusuar anyer perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Karang Bolong. Waktu tempuh kami untuk menuju Karang Bolong sekitar 20 menit saja. Setelah berkeliling mencari spot yang nyaman untuk beristirahat, akhirnya kami memilih untuk masuk ke spot Pantai Karang Bolong. Dengan membayar Rp 20.000,00 kami masuk ke kompleks Karang Bolong. Tiket masuk sebenarnya hanya Rp 5.000,00 per orang ditambah dengan parkir motor Rp 10.000,00. Mengapa dinamakan Karang Bolong? ya sudah pasti disana ada karang yang bolong di tengahnya.

Saat itu tidak terlalu ramai disana, pantainya cukup landai dan berpasir. Sayangnya bukan pasir putih disana. Ada permainan banana boat untuk yang ingin menguji keberanian dan keceriaan..hehehe

Menikamti es kelapa muda di pinggir pantai emang mak nyuuuus rasanya. Dinginnya air kelapa ditambah dengan sepoi-sepoi angin pantai menambah romantisme sore itu semakin tebal terasa.

Puas bermain air kami membeli kaos sekadar untuk oleh-oleh untuk kami sendiri...hehehe
Suatu cindera mata yang suatu saat pasti akan usang ditelan masa, namun tidak di dalam hati.

suatu hari dikala kita duduk di tepi pantai
dan memandang ombak di lautan yang kian menepi
...
kemesraan ini janganlah cepat berlalu
kemesraan ini ingin kukenang selalu

Iwan Fals

Anyer - Serang
Maret 2011




Blog EntryMar 27, '11 11:45 PM
for everyone
Sebenarnya MP saya ini dulu pertama saya buat niatnya untuk menumpahkan semua catatan perjalanan mendaki gunung saja. Tapi dengan berjalannya waktu ternyata kesempatan untuk mendaki gunung itu semakin berkurang dan jarang dilakukan. 
Akhirnya dari pada MP ini kosong mlompong saya putuskan untuk mengisi semua perjalanan saya meskipun bukan hiking...hehehe
Biar gak sepi-sepi amat neh MP...



Curug Cilember
- sebuah perjalanan singkat -

Sekitar bulan Desember lalu, disaat liburan Natal, saya bersama Ayu Adi Justicea pergi jalan-jalan ke Curug Cilember. Sebelumnya kami memang telah merencakan untuk ngeTrip di libur natal tapi entah kenapa Curug Cilember jadi tujuan kami. Mungkin salah satunya adalah tempatnya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta dan termasuk wisata alam juga. Maklum kami berdua sama-sama hobi wisata alam.
Curug ini terletak di Desa Cilember, Puncak, Cisarua, Jawa Barat. Dari Jakarta mungkin bisa ditempuh 1,5 - 2 jam perjalanan, tergantung berapa kecepatan kendaraan anda sih...

Setelah memasuki
pintu gerbang ada papan petunjuk yang bertuliskan spot-spot yang ada di kawasan curug ini. Fasilitasnya lumayan lengkap mulai dari musholla, kamar mandi, samapi curug pun ada disini... (yaeyalaaaah...wong namanya wisata curug.. ).
Setelah berjalan masuk ke kawasan, kami disuguhi dengan bangunan yang
bulat bentuknya ( ya kira-kira seperti di foto lah ). Itu adalah taman kupu-kupu. Sayang kami gak sempat masuk di dalamnya karena saat itu pas gerimis dan taman ditutup. jadi maksud saya karena gerimis, maka tamannya ditutup.

Di kawasan ini juga tersedia tempat camp untuk keluarga atau untuk sekadar beristirahat di dalam tenda. Saya sempat bertanya kepada penjaga disana katanya mereka juga menyewakan tenda kapasitas 4-5 orang, juga menyediakan tenda kapasitas besar untuk keluarga atau kegiatan lainnya.


Curug Cilember ini sebenarnya ada 7 tingkat yang satu tingkat ke tingkat lainnya harus menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan karena harus menanjak bukit ( katanya seperti itu... ).
Curug yang paling bawah adalah curug 7. Curug inilah yang paling ramai dikunjungi orang-orang karena tempatnya yang paling dekat dan gak perlu menanjak-nanjak. Di depan curug ini terdapat villa yang sangat nyaman jika dilihat dari luar ( apalagi di dalamnya ya? ). Setahu saya sewa villa disini sekitar 700 - 900 per malam, tergantung fasilitas yang disediakan juga. Yang pasti tempatnya sangat nyaman, air segar, dan petugas selalu ada disini.

Saya sama Ayu cuma sampai ke curug ke 5 saja setelah menanjak sedikit yang cukup membuat ngos-ngosan akibat sudah lama gak olahraga ( ngeleees... ).


Menurut saya tempat ini sangat nyaman untuk wisata keluarga kecil yang ingin menikmati suasana alam yang masih asri dan segar. Tinggal nyewa tenda, gelar tikar, lalu bercengkrama dengan anggota keluarga sambil menikmati bekal yang sudah dibawa dari rumah yang dimasakin oleh istri tercinta. So Sweet banget dah... !!!

Selain villa yang ada didekat curug 7 tadi, juga ada beberapa pondok yang lebih kecil. Pondok Damar salah satunya. Pondok ini berbentuk rumah panggung yang nyaman.
Setelah puas kami menikmati kawasan curug ini kami memutuskan untuk pulang. Yah memang singkat saja perjalanan saya dengan Ayu tapi di perjalanan yang singkat ini sudah cukup menggoreskan cerita yang manis di hati kami berdua....

Salam,
Asig


*maaf, caption di foto yang menyebutkan 'curug 1' itu maksudnya adalah curug 7









Blog EntryFeb 13, '11 10:56 PM
for everyone
saya sekadar mau sharing tempat yang asri dan sederhana di daerah puncak Bogor...
Semoga bisa menjadi salah satu ide untuk melewati liburan bersama orang-orang tersayang....

Curug Cilember

Cilember
adalah sebuah desa yang terdapat di Cisarua, Puncak, Jawa Barat. Salah satu tujuan wisata yang terkenal di daerah ini adalah Wana Wisata Curug Cilember. Curug adalah bahasa Sunda dari air terjun. Di Curug Cilember, Anda akan menghadapi tantangan untuk bisa mengunjungi tujuh buah air terjun yang ada di kawasan ini dengan medan yang semakin sulit. Di mulai dari air terjun ke tujuh yang mudah dicapai, hingga curug ke satu yang terletak di paling atas. Dengan hanya menempuh waktu kurang lebih 1,5 - 2 jam dari kota Jakarta, Curug Cilember dapat menjadi pilihan wisata bagi Anda yang ingin berekreasi bersama keluarga di akhir pekan.

Dari gerbang tol Ciawi, Anda terus menuju arah Puncak. Di daerah Cisarua, Anda dapat berbelok ke kiri untuk menuju Curug Cilember dan juga Taman Matahari. Setelah melewati Taman Matahari, Anda akan melewati vila dan rumah penduduk sepanjang jalan. Setelah itu Anda dapat tiba di gerbang Curug Cilember. Jalan untuk menuju tempat ini sudah beraspal, tetapi juga berliku dan sempit, sehingga bila ada 2 mobil, Anda harus berhati-hati.

Dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, suasana hijau dan sejuk langsung menyambut Anda di tempat wisata ini. Tidak perlu kuatir, karena pihak pengelola sudah menyediakan petunjuk jalan yang akan membantu Anda. Tempat favorit banyak pengunjung adalah mengunjungi air terjun atau curug walaupun ada fasilitas lain yang disediakan pengelola. Ada banyak pedagang saat akan menuju curug ke tujuh, mulai dari penjual jagung bakar, mie instant rebus, sate kelinci atau pedagang souvenir. Bagi Anda yang merasa lapar, Anda dapat singgah ke tempat ini.

Taman Konservasi Kupu-Kupu


Selanjutnya, Anda akan melihat Taman Konservasi Kupu-Kupu, sebuah bangunan berbentuk kubah jaring raksasa. Bila ingin masuk ke tempat ini, tiket dijual dengan harga Rp 5.000,-. Di sini merupakan tempat kupu-kupu dikembangbiakan. Ada petugas yang akan menjelaskan proses metamorfosis kupu-kupu, memperlihatkan telur, ulat maupun kepompong yang ada di taman konservasi ini. Petugas dengan ramah juga menerangkan jenis kupu-kupu dari ulat yang ada serta menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan pengunjung. Tempat yang cocok untuk menambah pengetahuan anak Anda yang masih kecil. Anda dapat melihat sendiri kupu-kupu yang berterbangan atau yang hinggap di bunga atau daun dari tanaman yang ada. Hanya saja pada musim tertentu, kupu-kupu di sini tidak terlalu banyak. Penangkaran ini dibuat menyerupai taman dengan bunga-bungan dan tanaman lainnya yang semakin mempercantik tempat ini.

Fasilitas di Curug Cilember


Perjalanan dapat dilanjutkan dengan melewati Jembatan Cinta, jembatan gantung yang akan bergoyang saat dilewati. Kemudian, Anda dapat mencoba Flying Fox di antara tanaman pinus yang ada disini. Ada juga pondok-pondok kayu yang disewakan untuk tempat bermalam. Harga sewa pondok ini berbeda-beda, tergantung jenisnya. Sewa termahal adalah pondok Meranti (3 kamar tidur, dapur, tungku pemanas, water heater) harganya Rp 700.000,- untuk weekday dan Rp 900.000,- untuk weekend. Untuk pondok Merkusi dengan fasilitas sama seperti pondok Meranti tetapi hanya terdiri dari 2 kamar tidur, harganya Rp 600.000,- untuk weekday dan Rp 800.000,- untuk weekend. Sedangkan untuk tipe lainnya ada Rasamala (2 kamar tidur, water heater) dan Damar (2 kamar tidur, dapur) harga sewanya Rp 600.000,- untuk weekday dan Rp 700.000,- untuk weekend. Anda dapat memilih sendiri fasilitas pondok mana yang cocok untuk Anda.

Bila ingin mencoba suasana yang berbeda, cobalah untuk menikmati acara camping atau berkemah di ruangan terbuka. Pengelola menyediakan sewa tenda seharga Rp 75.000,-, sleeping bag seharga Rp 15.000,- atau perlengkapan lainnya untuk berkemah seperti lampu, genset, matras, atau api unggun. Ada beberapa tempat yang menjadi lokasi perkemahan (camping ground). Tempat MCK dan keamanannya terjamin, karena adanya petugas yang terus berjaga di tempat ini.

Curug 7 Cilember

Tidak jauh dari pondok penginapan, tibalah Anda di curug atau air terjun ke tujuh. Curug ini yang paling ramai karena terletak paling bawah sehingga mudah diakses. Letaknya hanya beberapa ratus meter dari pintu gerbang. Curug ke tujuh terbagi dua dan dan Anda dapat melihatnya dari jauh karena ketinggian curug ini. Banyak pengunjung yang menikmati kesegaran air terjun ini. Mereka mendekati curug ini untuk mandi di bawah curahan air terjun, berenang di kolam alami hasil penampungan air terjun, atau sekadar berfoto-foto dengan pemandangan air terjun. Di sini juga disediakan tempat MCK dan tempat ganti pakaian setelah Anda berbasah ria.

Di curug ini juga kerap kali dijadikan tempat foto prewedding untuk para calon pengantin. Rasa lelah akan terasa hilang saat merasakan percikan air di wajah atau saat mencoba merasakan dinginnya air terjun. Ditambah lagi dengan suasana asri dan indahnya pemandangan curug ketujuh ini.

Curug 5 Cilember

Curug 5 Cilember

Setelah puas menikmati curug ketujuh, perjalanan dapat dilanjutkan menuju curug ke lima. Curug ini lebih besar dibandingkan dengan curug ke tujuh walaupun tidak setinggi curug ke tujuh. Anda dapat menghilangkan lelah Anda dengan bermain-main di curug ini.

Untuk mencapai curug ke lima, medannya lebih sulit, karena hanya berupa jalan setapak yang terdiri dari batu-batuan dan tanah. Jika hujan, maka jalan ini cukup licin sehingga harus lebih berhati-hati. Jalan setapak ini juga berliku-liku. Untuk mencapai curug ke lima, Anda membutuhkan waktu kira-kira 15 menit berjalan kaki.

Curug ke lima, lebih indah dan bersih, karena lebih sulit dijangkau dari curug ke tujuh. Namun di sini juga disediakan fasilitas MCK dan ruang ganti pakaian. Ada juga warung yang menyediakan makanan dan jagung bakar yang bisa dinikmati. Di area sekitar curug ke lima juga terdapat camping ground untuk menikmati keindahan hutan alami sambil menikmati kesejukkan alam di dekat air terjun.

Curug Cilember

Wana Wisata Curug 7 Cilember
Jl. Cisarua Puncak Km 10
Desa Cilember
Kecamatan Cisarua
Puncak, Jawa Barat
Telp: (0251) 258 890

sumber : http://kumpulan.info/


Blog EntryFeb 11, '11 11:25 AM
for everyone
Kota ini yang memang tak begitu ramai
pun tak juga sepi....
Kemerling cahaya lampu malam yang mulai tak asing di jiwa
Dipaksa untuk menemani senantiasa

Serasa sungguh sepi 
Sendiri mungkin hanya kurasa
Di tengah mentari yang selalu dan selalu menyinari
pun tak juga kurasa....

Aku disendirikan
Kesengajaan
Penyesuaian
Suasana
Aku sungguh tak tahu benar

Harapku...
Senantiasa ada dibalik sore itu
Selalu bersamamu.

~ Serang, 11 Februari 2011

Blog EntryOct 20, '10 9:24 PM
for everyone

Tepat 365 hari pemerintahan SBY-BD Indonesia terjadi demo dimana-mana. Siapa lagi kalo bukan mahasiswa yang melakukannya. Menurut banyak kalangan memang pemerintahan setahun ini belum banyak menghasilkan apa-apa atau dengan kata lain masih jauh dari kata memuaskan. Mahasiswa yang seharusnya menyuarakan hati rakyat kepada pemerintah tapi  entah kenapa banyak aksi demo yang selalu berujuk pada chaos dan aksi anarkis oleh mahasiswa itu sendiri. Makassar contohnya, sebagai kota yang besar dan mahasiswa yang seharusnya mempunyai intelektualitas diatas rata-rata malah yang paling sering terjadi chaos pada saat aksi demo. Di Solo, di Tasikmalaya, tak beda pun keadaannya.

Jakarta? Ah sudah jangan ditanya lagi. Aksi di depan Istana juga berakhir dengan ricuh.

 

Terkadang bertanya juga, apa sih yang sudah mereka beri untuk Negara ini? mereka yang selalu berbuat anarkis saat demo itu. Membakar ban, mencegat mobil plat merah dan tak jarang merusaknya. Mobil yang dibeli dengan uang rakyat dirusak begitu saja. Lalu apa bedanya dengan koruptor? Yang sama-sama menghabiskan uang rakyat begitu saja. ( IMHO )

 

Mari jika ingin berdemo, berdemo lah dengan tertib dan yang paling penting janganlah merusak asset Negara apapun. Semua itu adalah milik rakyat, milik kita bersama.

 

Tepat satu tahun pemerintahan SBY-BD ini pulalah kami mahasiswa jebolan perguruan tinggi plat merah di bintaro sektor 5 pun mendapatkan pengumuman penempatan instansi. Instansi dimana kami akan mengabdi seumur hidup kami untuk Indonesia. Setidaknya disanalah nanti kami dapat memberikan sedikit pengabdian kepada ibu pertiwi. Ya….kami termasuk saia sebentar lagi akan masuk ke lembaga birokrasi. Sebentar lagi akan masuk ke sistem yang masih banyak rakyat yang merasa belum puas akan kinerja nya. Lalu seperti apakah saia nantinya? Ah…tidak ada yang tau. Banyak mahasiswa yang kehilangan idealisme nya ketika sudah masuk ke ‘lingkaran setan’. Namun tidak sedikit juga mahasiswa yang masih memegang teguh idealisme nya dimanapun dia berada.

 

Ini bukan batas tapi inilah awal dari jalan panjang kami sebagai anak ibu pertiwi. Doakan kami ibu, semoga masih setia di jalan mu, semoga masih memegang teguh cita-cita kami yang luhur, semoga kami bisa memberikan budi bakti kami kepadamu. INDONESIA…..!!!


- roemah Ngawi, 21 Oktober 2010 -


sebenarnya sudah sangat-sangat terlambat meng unggah tulisan ini. Namun saia merasa memiliki utang yang teramat besar ( lebay mode on ) jika tidak melanjutkan tulisan tentang catper pendakian ke cetho ini. Apalagi pak daris maksa mulu buat aplut ini tulisan.

Langsung ja ya...semoga bermanfaat untuk kita semua.

Hijau, hijau, dan hijau…

Rumput pun agak tinggi, bunga-bunga kuning kecil sedang bermekaran, bunga yang putih pun tak mau kalah untuk menunjukkan keindahannya. Kami sampai di sebuah tempat yang hijau semua kami pandang. Seakan tempat ini bukan di lawu yang terkenal kering dan gersang. Tapi kali ini beda, rumputnya sangat hijau dan segar. Tak Nampak kegersangan sedikitpun. Inilah sabana yang diceritakan banyak pendaki yang pernah kesini sebelumnya. Setelah lama menyusuri rumpur nan hijau ini kami sampai di sebuah batu kotak. Inilah pos IV bulak peperangan (2820 mdpl ). Dulu katanya di pos ini juga ada shelternya tapi sekarang hanya ada sebuah tanda kotak segi empat yang terbuat dari semen yang biasa disebut batu propinsi. Mungkin ini adalah batas antara propinsi jawa tengah dengan jawa timur ya???

Saya, Iqbal, dan Tinton berfoto-foto disini. Daris tampak mengambil gambar dari atas batu di belakang kami. Sedangkan syafii hanya duduk di tanah menikmati kelelahannya. Di kanan dan kiri kami adalah bukit hijau yang ditumbuhi pohon pinus yang masih dapat bertahan dari kebakaran hebat beberapa tahun yang lalu. Di ujung jalur landai ini sudah menunggu tanjakan yang kalau dilihat dari pos IV ini tanjakannya lumayan “makaaasih banget deh “. Seperti tanjakan cinta ya? Kata si Iqbal. –tanjakan cinta adalah tanjakan nan legendaries yang ada di semeru jatim-. Ah bisa aja si Iqbal tuh, tapi memang kalo dilihat dari jauh ada mirip-mirip nya dikit sih ( kalau dipaksain mirip  ). Wow…setelah ngrasain langsung tanjakan ini ternyata memang makasih banget tanjakannya.

Hamparan sangat luas dapat kami lihat setelah kami sampai di puncak tanjakan ini. ternyata masih ada sabana lagi debalik tanjakan ini. Tak kalah luas dari yang tadi. Jalurnya sangat jelas membelah di tengah sabana. Di sebelah kanan jauh disana terlihat puncak hargo dumiling yaitu sebuah bukit yang di puncaknya terdapat sebuah tower entah punya siapa dan dibuat untuk apa. Di tengah padang sabana ini terdapat sebuah rembesan air yang akan terisi oleh air kalau musim hujan. Pada waktu itu disana ada sedikit air di tengahnya. Tinton dan Iqbal sempat mencuci muka disana. Kabut mulai menyelimuti hamparan saban ini, gerimis kecil mulai turun sebentar kemudian berhenti lagi. gerimis yang dibawa oleh kabut tadi sehingga kalau kabutnya hilang gerimisnya pun juga berhenti. Di ujung sabana itu pohon-pohon cantigi mulai sering terlihat. Tiba-tiba saja turun gerimis yang agak deras. Kami berhenti dan berteduh di bawah pohon cantigi yang agak besar. Berharap ini hanya gerimis kabut. Ternyata gerimis ini tak kunjung berhenti dan malah bertambah lebat. Ternyata ini hujan betulan. Raincoat kami pakai, saya memakai ponco batman karena gak punya raincoat. Hujan tak menghentikan langkah ini ( halah )….kami pun berjalan lagi. di depan kami ada sebuah kompleks berbatu-batu yang disusun-susun. Ada yang berbentuk 2 segitiga di gerbang pertamanya, lalu di dalamnya ada batu yang disusun bertingkat keatas, ada yang disusun seperti nisan, dsb. Tempat inilah yang disebut pasar dieng ( pasar setan ). Salah satu tempat yang sangat dikeramatkan di Lawu ini. Dari sini jalurnya hilang, orientasi hanya hargo dumiling yang ada di belakang jauh sana, dan hargo dumilah ( puncak Lawu ) yang berada di kanan jauh sana. Berarti kalau untuk menuju ke Hargo dalem kami harus berjalan lurus dulu dari pasar dieng ini. Hargo Dalem adalah nama sebuah sebuah kompleks tempat yang ada di bawah puncak Lawu. Disana terdapat makam sunan Lawu dan beberapa shelter. Juga ada sebuah warung milik Mbok Yem yang sudah melegenda di kalangan para pendaki. Dari sini jika akan menuju ke ppuncak hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit saja.

Pukul 13.30 wib kami sampai di warung Mbok Yem di Hargo Dalem. Yang unik dari Gunung Lawu ini adalah di ketinggian sekitar 3000 mdpl terdapat sebuah warung yang menjajakan makanan dan minuman. Mbok Yem nama pemilik warung ini. Umurnya sudah lumayan lanjut, biasanya dia ditemani oleh anaknya. Kami memilih untuk beristirahat di warung mbok yem dan akan muncak nanti sore saja sekalian menikmati sunset dari puncak Lawu.

 

Hewan dan sunset itu…

Syafii masih tidur, Tinton dan Iqbal masih juga tidur disamping saya. Mata saya sudah terbuka setelah lumayan bisa tidur 1 jam di dalam warung mbok yem. Daris sudah entah kemana dia pergi. Melihat jam di tangan saya menunjukkan pukul 15.30 wib. Saya beranjak bangun sekaligus membangunkan Tinton dan Iqbal untuk persiapan mendaki ke puncak. Carrier kami tinggal di warung ini, kami hanya membawa minuman, snack, raincoat, senter, dan kamera. Sebelum mendaki ke puncak kami sempat melihat rumah botol dulu. Ya..disebut rumah botol karena dibuat dari banyak botol dan kaleng-kaleng bekas.

Sekitar 45 menit kemudian kami sampai di puncak lawu ( hargo dumilah ) 3265 mdpl. Tugu triangulasi nya ternyata baru. Sekarang semakin tinggi dan gagah. Dulu tugu yang ada di puncak Lawu hanya setinggi 1,5 meter saja. Sekarang tingginya mungkin sekitar 2 meteran lebih dan bagus. Puncak lawu berbentuk dataran bertingkat yang menjorok kea rah barat. Di sebelah selatan adalah jurang yang dasar dari jurang itu adalah kawah mati yang sekarang menjadi padang rumput yang akan terisi oleh air kalau musim penghujan ( telogo kuning ). Di sebelah utara adalah jurang sadel yang menghampar sampai kearah hargo dumiling tadi ( puncak tower ). Dari puncak terlihat hamparan pegunungan di selatan, waduk gajah mungkur di Wonogiri, Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah barat.

Ketika kami sedang asyik mengambil gambar, saya terkejut dengan lingkaran berwarna coklat di rerimbunan pohon cantigi. Eh kok berbulu dan bernafas ya? Hewan apa ini? dia melingkar berwarna coklat pirang kepalanya gak kelihatan, hanya terlihat ekor saja. Penasaran dan pingin saya bangunkan tapi takut juga kalo tiba-tiba ngejar dan menggigit….hehehe. Akhirnya dibiarkan saja itu hewan di dalam tidurnya. Hanya saya ambil gambarnya saja. Lagit tak begitu terang sore ini, mendung di sisi barat sana. Sehingga sunset pun akan tidak jelas terlihat. Jika langit sedang cerah sunset akan terlihat tenggelam di balik gunung Merapi. Kami putuskan untuk turun kembali ke hargo dalem sebelum sunset karena toh sunset tidak akan terlihat. Kecewa sebenarnya tapi itu tidak masalah jika dibandingkan dengan kelancaran yang telah Tuhan berikan sehingga kami sampai di puncak ini.

Malam ini kami akan turun langsung lewat jalur cemoro sewu agar tidak ketinggalan kereta yang menuju ke Jakarta esok hari. Perjalanan yang luar biasa untuk saya. Tujuh kali yang selalu berarti…!!!

 

~ puncak Lawu dinamakan Hargo Dumilah mempunyai ketinggian 3265 mdpl ( meter diatas permukaan laut ). Kawah asli gunung ini telah mati dan menjadi telogo kuning. Namun di jalur cemoro kandang ada tempat yang masih aktif mengeluarkan asap belerang. Gunung Lawu akan sangat ramai jika tanggal 1 suro ( penanggalan jawa ). ~

 

 

 



punggungan lagi malam ini...

Sehabis pos II tadi jalur mulai masuk lagi ke sebuah jalur punggungan. Tetap saja semakin menanjak dan rimbun perdu masih sama. Sudut tanjakan semakin besar tapi kepadatan pepohonan berkurang hanya rerumputan subur dipinggiran jalur ini. Ketika kami menengok ke belakang tampak
hamparan dataran jauh disana. Mulai terlihat kerlip-kerlip lampu kota dijauh sana. Seketika itu pula kami sadar bahwa langit memang telah muram, lembayung senja mulai terlihat di ufuk barat. Tanpa komando kami mulai mengeluarkan headlamp masing-masing. Jalur mulai masuk lagi ke dalam hutan kali ini suasana sudah benar-benar gelap. Pepohonan nya didominasi oleh sejenis pohon lamtoro. Tanjakan nya masih sama bahkan terkadang temen-temen berkata, “wah dengkul ketemu dada neh” menggambarkan ketika kaki harus benar-benar diangkat tinggi untuk naik ke jalur yang curam.
Tiba-tiba saja di kepala terfikirkan tentang wanita yang ditemukan meninggal di pos III beberapa minggu yang lalu. Belum juga terlalu tua, mungkin sekitar 30 tahunan, dia ditemukan sendiri, tanpa bahan makanan, tanpa peralatan. Entah mau apa tuh cewek sampai di pos III pikir saya. Kalau toh hanya jalan-jalan susur hutan saja kenapa juga sampai di pos III yang jauh dan jalurnya menanjak seperti ini?. “Merinding…!!!”

Sorot headlamp saya mengenai sebuah bangunan yang baru kelihatan atapnya saja dari tempat saya berdiri. Saya menambahkan langkah kaki kedepan untuk naik ke beberapa tanjakan, sorot headlamp saya menerangi sebuah shelter. “woe….pos III” teriak saya. Saya letakkan carrier di tempat lapang di sisi kiri shelter tadi. Satu persatu teman-teman menyusul dan langsung beristirahat di tempat ini. Angin berhembus tak begitu kencang, suhu masih nyaman, tapi sudah gelap. Jam menunjukkan pukul 18.35 wib. Di itinerary yang telah kami buat, hari ini seharusnya target kami adalah sampai di pos IV pukul 21.00 wib. Namun kami memutuskan untuk camping di pos III saja untuk malam ini mengingat teman-teman yang datang dari Jakarta dan Bandung ini belum pada beristirahat lama.
Pos III cemoro dowo ( 2215 mdpl ) masih terletak di dataran di tengah punggungan. Berupa shelter di kiri jalur, beratap seng tanpa dinding. Di kanan jalur terdapat camping site yang cukup untuk 1 tenda kapasitas 5 orang. Disitulah kami mendirikan tenda. Malam itu kami tak banyak ngobrol di dalam tenda. Mungkin pada capek apalagi teman-teman yang berangkat dari Jakarta. Sehabis makan malam kami langsung masuk ke sleeping bag masing-masing dan menata tidur di dalam tenda yang pas banget untuk 5 orang ini.

“hmm….di tempat ini lah beberapa minggu lalu cewek misterius itu ditemukan tewas” pikirku. Kenapa ya? Orang gila mungkin ya? Dan kami semua telah terlelap. Selamat beristirahat kawan…!!!


Sabtu, 3 April 2010
Kata siapa 1 km? ternyata cuma 5 meter kok...

Pagi pun menyapa....suara burung-burung kecil sudah bersahut-sahutan. Sarapan pagi dengan menu tumis kangkung dengan secangkir teh hangat. Nikmat sangat kami rasa. Suara sungai terdengar berada jauh di bawah lembahan di sisi kanan jalur. Sebelum beranjak dari pos III kami berdoa semoga hari ini diberi kelancaran di perjalanan sampai di tujuannya nanti. Jalur menuju ke pos IV masih dan masih saja menanjak melewati punggungan. Tumbuhan-tumbuhan perdu serta rumput tinggi sangat rapat sekali. Bahkan banyak yang menutupi jalur sehingga kami seakan membelah tetumbuhan itu untuk melewatinya. Basah dan basah lagi celana saya karena saya berjalan paling depan yang otomatis menyapu semua embun yang masih ada di tumbuhan-tumbuhan itu. Sigh..!!!

Di tengah perjalanan kami sempat beristirahat di sebuah tempat datar. Di kanan jalur terlihat ada percabangan. Setelah meletakkan carrier saya mencoba untuk melihat percabangan itu. Syafii mengecek jalan itu, ternyata mentok ke sebuah pipa air. Di pipa itu ada lubang kecil yang kelihatannya memang sengaja dibuat. Air tidak mengucur keluar karena derasnya aliran di dalam pipa. Dengan kayu kecil yang dimasukkan ke lubang itu akhirnya air dapat keluar. Wah….ternyata di tengah jalur menuju ke pos IV ada pipa air yang dapat dimanfaatkan untuk mengambil air. Jadi gak perlu untuk turun 1 km ke bawah untuk ke sungai.

Pukul 09.30 wib kami tiba di pos IV penggik ( 2520 mdpl ). Shelter di pos ini ada di kiri jalur, bentuknya hampir sama dengan pos III, beratap seng. Di dalamnya masih terdapat sisa kayu bakar entah siapa yang mengumpulkannya. Pos IV ini adalah setengah dari total perjalanan yang harus kami lalui untuk sampai di puncak lawu. Tak lama kami disini segera kami lanjutkan perjalanan mumpung tenaga juga masih seger. Jalur pun tetap saja menanjak. Saya penasaran sekali dengan jalur cetho ini karena jalur ini akan menghadirkan 2 hamparan sabana hijau nantinya.  Apalagi setelah chatting juga sama mbak aries katanya jalur setelah pos IV ini akan variatif sekali. Lepas pos IV tadi jalur masih saja menanjak dan masih dilajur punggungan. Saya melihat ada bukit disebelah kanan jalur ini dan bukit itu masih lebih tinggi dari tanah yang saya pijak ini. Jadi mungkin kami harus mencapai puncak bukit dari punggungan ini baru akan turun ke sabana itu pikir saya. Kami lalu tiba di sebuah dataran yang lumayan nyaman untuk beristirahat. Di tengahnya terdapat 2 pohon pinus besar. Ketika saya menengok ke lanjutan jalur di depan terlihat jalurnya mulai datar. Mungkin inilah puncak dari bukit ini. sambil beristirahat saya iseng mengambil gambar lumut dan jamur yang menempel di pohon tumbang di sisi kanan jalur. ( terinspirasi oleh poto2 dr timnya mbak aries juga.)






















Setelah tempat datar tadi jalur menjadi agak landai dan bahkan cenderung turun. Komposisi tanaman hutan sudah mulai berubah. Cantigi dan sejenis edelweiss sudah mulai terlihat. Di sisi kanan jalur adalah lembahan yang mungkin adalah hulu dari sungai yang terdengar dari pos III tadi.  Di depan kami terpampang sebuah bukit, jalan yang kami lalui ini menuju ke kaki bukit tersebut. Mungkin kami harus mendaki bukit itu dan dibalik bukit itu adalah sabana yang banyak diceritakan para pendaki pikir saya. Tibalah kami di kaki bukit itu jalur menjadi melipir ke arah kiri. Kami ikuti saja jalur nya yang mulai menanjak lagi. Kami sempatkan untuk beristirahat di bawah pohon pinus besar. Pohon ini sepertinya bekas terbakar oleh kebakaran beberapa tahun lalu. Terlihat dari batang pohonnya yang sebagian menghitam menjadi arang. Tapi hebatnya pohon ini masih hidup, daun atasnya masih hijau. Tubuh pun segar kembali kami pun melanjutkan perjalanan. Jalur masih melipir sisi kiri bukit tadi. Ternyata jalur ini hanya melipir bukit ini saja dan tidak harus mendaki nya.


to be continued....(apa itu?? sungguh tak seperti yang kukenal 6,5 tahun selama ini....)


Awas bajumu hijau...!!!

Waktupun kami habiskan untuk berfoto di dalam kompleks candi. Tak lupa kami mengisi botol-botol yang telah kami bawa dengan air karena menurut catatan perjalanan pendaki sebelumnya jalur cetho ini tidak ada sumber air sepanjang perjalanan ( ada tapi itupun juga harus turun ke sungai sejauh 1 km ). Di teras ke empat ada 2 pendopo dari kayu yang biasanya digunakan untuk tempat ibadah. Di sisi kiri nya terdapat pintu keluar kecil menuju ke candi kethek. Itulah entry point jalur pendakian ini. Tak jauh setelah keluar lewat pintu kecil itu ada warung di sebelah kanan jalan. Kami sempat beristirahat di depan warung itu. “ mas…itu temannya yang bajunya hijau tadi tolong disuruh ganti baju ya?” kata bapak penjaga warung. Sempat tertegun sejenak saya, tapi langsung saya sadari dan menjawab, “oh iya pak..nanti saya suruh ganti bajunya”. Salah satu teman kami, Iqbal, memang memakai baju hijau. Di banyak gunung Indonesia ada begitu banyak mitos yang sangat dipercaya oleh masyarakat setempat. Seperti di gunung ciremai yang katanya gak boleh kencing di tanah. Nah untuk di Gunung Lawu ini ada sebuah mitos yang menyebutkan bahwa bagi siapapun yang akan mengunjungi Gunung Lawu apalagi untuk mendakinya, dilarang memakai pakaian berwarna hijau. Pasti ada sebabnya kenapa muncul mitos seperti itu tapi saya kurang tau apa itu. Kami sebagai pendatang juga menghormati mitos tersebut, entah apakah di benak salah satu dari kami mempercayai ataupun tidak yang penting menghormati saja. Toh si Iqbal juga bawa pakaian ganti yang lain makanya dia pun juga dengan ikhlas berganti pakaian yang lain.


Di awal jalur adalah berupa jalan yang sudah di semen menuju ke candi kethek. Di tengah jalan ada persimpangan ke kanan menuju puri saraswati. Jalan semen ini mentok ke sebuah turunan menuju ke sungai. Kami harus menyeberang sungai kecil yang ketika kemarau airnya gak ada ini untuk menuju ke candi kethek. Setelah menyeberang sungai jalur agak menanjak sedikit dan sampai pada pelataran candi kethek. Jalur pendakian selanjutnya ada di sisi kanan candi ini. Jalan setapak kecil yang masih agak terbuka.


Konturnya terus menanjak tapi masih relative landai. Semakin jauh kaki ini melangkah ternyata jalurnya semakin rapat. Di kanan kiri jalur tumbuh subur tanaman perdu serta rumput ilalang yang tinggi dan basah yang disisakan oleh hujan yang sempat turun siang tadi. Celana yang saya pakai pun basah karena menyapu butiran-butiran air yang masih ada di dedaunan. Di belokan sebuah punggungan saya melihat ada sebuah bangunan. Semakin saya mendekat dengan bangunan itu ternyata itu adalah pos I ( 1715 mdpl ). pos I terletak di belokan punggungan berbentuk gubug yang tak terlalu tinggi. Seperti tenda pramuka menurut saya. Atapnya terbuat dari anyaman bambu yang dipasang sampai ke bawah sehingga tidak memerlukan dinding lagi. Perlu merunduk untuk masuk ke dalamnya. Beristirahat dan sholat ashar kami disana. Setelah itu kamipun berlalu.

Jalan setapak ini pun sangat jelas tapi menjadi samar karena ditutupi perdu yang sangat rimbun dan satu lagi, basah…!!!. Tak seperti jalur sebelum pos I tadi yang lewat punggungan, kali ini jalurnya melewati tengah hutan yang rimbun dan basah serta sedikit gelap. Ternyata memang benar bahwa jalur cetho ini masih jarang dilewati orang. Hal itu dibuktikan dengan masih rapatnya tanaman perdu di kanan kiri jalur serta banyak pohon tumbang di tengah jalan yang belum dirapikan. Suara khas hewan-hewan hutan tropis menemani perjalanan kami berlima. Gareng pong ( sejenis serangga yang mempunyai suara keras ), burung-burung kecil, ayam hutan, semua bersuara seakan bersahutan di sore itu di dalam lebatnya hutan Lawu sisi barat laut. Cukup membantu menemani perjalanan kami yang sarat dengan carrier berat di punggung kami masing-masing. 
“pos…!!!” teriak saya. Pukul 16.50 wib kami sampai di pos II Brakseng ( 1915 mdpl ). Shelternya terletak di kanan jalur. Berbentuk seperti tenda pramuka, sama seperti pos I tadi. Tak lama kami beristirahat disini. Kami memilih untuk segera melanjutkan perjalanan saja. Berharap bisa langsung hajar sampai pos IV.

ternyata setelah pos II tadi jalurnya masuk lagi ke sebuah punggungan dan semakin menanjak...

to be continued....(punggungan dan 5 meter itu)


Malam itu biasa saya sedang nongkrong di posko stapala, suasana agak rame disana. Ada yang ngobrol di dalam posko ada juga yang sedang makan nasgor di luar di bawah pohon kelapa di halaman depan posko. Daris yang biasa disapa Dosko di stapala tiba-tiba nyeletuk ke saya, “sig di pos III cetho kemarin ditemukan mayat cewek”. “wah iya to pak? Sambung saya. Berasa agak merinding lah saya sejadinya. “wah ngeri juga neh pak, jadi gak tar kesana?” lanjut saya. “siapa takut? Jadilah” sambung Dosko.

Sebelum uas semester 5 kemarin saya memang merencanakan untuk maen ke gunung lawu untuk kesekian kalinya nanti ketika liburan uas. Namun untuk hiking kali  ini saya merencanakan untuk mendaki lewat jalur candi cetho karanganyar jawa tengah. Gunung lawu yang menaungi beberapa kabupaten antara lain Karanganyar jawa Tengah, Ngawi dan Magetan di Jawa Timur memang berada di perbatasan antara Jawa tengah dan jawa timur. Gunung ini memiliki beberapa jalur yang dapat dilewati untuk menuju puncaknya. Jalur yang paling populer adalah jalur cemoro kandang dan cemoro sewu yang berada di sisi selatan gunung ini. Sedangkan jalur candi cetho berada di sisi barat – barat laut.

Dua minggu sudah liburan berjalan, minggu terakhir adalah waktu untuk melakukan pendakian itu. Di rumah pun saya sudah mulai agak bosan. Dapat kabar dari Jakarta bahwa yang mau gabung untuk ikut pendakian ada 4 orang, Daris, Tinton, Iqbal, dan Syafii. Persiapan pun harus dimulai meski pun ini merupakan pendakian yang relative kecil tetapi safety procedure pun tetap nomer satu. Saya mulai mencocokkan itinerary yang saya buat dengan beberapa catatan perjalanan pendaki yang sudah pernah kesana yang saya dapat dari internet. Itinerary pun sudah jadi meski itu cuma rencana diatas kertas tetapi itu akan menjadi acuan yang penting ketika akan merubah-rubah jadwal di lapangan nanti karena kita tau bahwa alam tak bisa ditebak.

Jumat, 2 April 2010

Hari itu, jumat 2 April 2010 kami sepakat untuk bertemu di solo. Meeting point kami adalah perempatan Rs. Oen sekaligus tempat untuk mencari bus jurusan tawangMangu. Sekitar pukul 09.00 wib tim sudah berkumpul di meeting point langsung saja kami mencari bus jurusan Tawang Mangu. Dengan ongkos Rp 6.000,- kami diantarkan sampai ke terminal Karang Pandan. Segera kami mencari masjid sesampai di terminal karangpandan karena hari itu adalah jadwalnya shalat jumat. Setelah sholat jumat kami langsung menuju ke terminal lagi untuk makan siang sambil mencari-cari kendaraan untuk mengantar kami ke candi cetho. Carier-carier yang kami sandarkan di depan warung makan mengundang sopir bis untuk menawarkan jasa nya untuk mengantar kami ke candi cetho, start point pendakian. Tawar menawar pun mulai dilakukan, dan harga yang disepakati tak jauh juga dengan harga yang ditawarkan ( Rp 60.000 untuk ber 5 sampai gerbang candi ). Selesai makan siang berangkatlah kami berlima menuju candi cetho.

Pemugaran candi yang "ngawur"

Sekitar 1 jam an perjalanan akhirnya kami sampai di candi cetho. Kami tepat diturunkan di gerbang candi. Start point pendakian adalah mulai dari candi ini. Bisa kita lewat samping tanpa masuk ke candi bisa juga masuk ke candi dan lewat pintu kecil yang ada di dalam kompleks candi. “masak jauh-jauh datang dari Jakarta gak sekalian masuk ke candi?” tiba-tiba si Tinton nyeletuk seperti itu. Oke kamipun membeli tiket masuk ke candi yang hanya 2.500 rupiah untuk turis domestic. Candi cetho adalah candi Hindu yang telah ada sejak lama. Candi ini dulu sempat runtuh dan tertimbun tanah. Namun setelah melalui proses pemugaran candi ini pun saat ini dapat berdiri dengan megah dengan dibagi berteras-teras. Sangat disayangkan pemugaran untuk membangun kembali candi ini tidak memperhitungkan bagaimana bangunan candi ini yang asli dulu. Sehingga dapat dibilang bahwa bangunan candi yang sekarang ini tidak menjamin bentuk yang sebenarnya dahulu.

...tiba-tiba ketika kami mulai berjalan keluar candi salah seorang teman kami disuruh lepas bajunya oleh seorang penjaga warung. Kenapa ???

to be continued...(halaman ke 2)

Blog EntryMar 31, '10 11:41 AM
for everyone
malam ini kota ku tak disapa hujan...
dan bersyukur mungkin sebagian penduduknya, penduduk kota yang dibelah oleh dua sungai besar ini
Bersyukur bukan karena menolak hujan tapi karena gak mau bencana alam hampir 1 tahun yang lalu terulang lagi

Banjir besar....!!!

Bersyukur ku juga kuucap malam ini...
Semoga masih sama seperti ini minimal untuk weekend ini
Semoga juga terjadi disekitaran Lawu yang lain
Sedang tidak mau untuk berbasah-basah ria disana weekend ini tepatnya...

Ingin membuat ending liburan ini dengan suasana hangat dan romantis saja
disana...
lusa....


_asigsadja


Blog EntryMar 25, '10 2:36 AM
for everyone
Kemarin pagi saia pergi ke Ngawi untuk ke Telkom sekedar nyari informasi tentang flexi. selepas dari telkom saia keluar pagar dan blesss....eh ternyata ban depan motor saia kempes. Ah bocor ini batin saia. Langsung saia tuntun ke tukang tambal ban di perempatan yang kebetulan dekat dengan Telkom.Ketika sampai di depan rumah tukang tambal ban itu ternyata dia masih sarapan dan jadilah saia menunggu sejenak. Setelah kelar sarapan bapak yang sudah tua itu langsung mendekati motor saia dan menanyakan yang depan pa belakang yang bocor? "yang depan pak" jawab saia.

Langsung di atasilah tuh ban depan motor saia. Ban dalam dilepas dari dalam ban luarnya ( bingung ya....). Diisi angin alu dicek ke air buat nyari yang bocor yang mana...Biasalah standard tukang tambal ban...
Ketemu sudah akar masalah dari kebocorannya. Ternyata bekas tambalan yang dulu bocor kembali. Bapak itu bilang "ah tambalan yang lama bocor lagi mas, pasti ne bocornya lebar dan panjang, dan pasti gak dijahit dulu". Padahal itu bekas tambalannya belum dilepas ( bayangkan saja....). Setelah dilepas ternyata benar apa yang dikatakan bapak itu. Bapaknya itu dengan senyum seperti nya bangga berkata "hehehe...bener kan mas. bocor seperti ini seharusnya dijahit dulu baru ditambal. Bapak sudah berpengalaman jadi tadi langsung bisa tau bocornya kayak apa." Saia pun sambil tersenyum berkata "iya pak...tolong ya pak."

Dari pemikiran saia pribadi ada pelajaran yang bisa saia ambil dari situ. Pekerjaan apapun lakukanlah semaksimal mungkin, seprofesional mungkin, dan lakukanlah yang terbaik. Seperti bapak itu yang hanya seorang tukang tambal ban yang sebagian besar dari kita mungkin menganggap bahwa menambal ban itu gampang. Seperti bapak itu yang belum sampai dibuka tambalnya pun sudah tau seperti apa bocornya.

Simple....,,,

*dan motor saia pun selesai ditambal...

Blog EntryMar 18, '10 12:26 PM
for everyone
..sepertinya baru kemarin saia mengendarai motor nya mas Adhe buat survey tempat di Rawa Gede. Sepertinya juga baru kemarin si boyo sama gokong jatuh dari motor ketika berangkat bareng ke Rawa Gede....

Ternyata diklat lapangan stapala 2010 sudah selesai dilaksanakan. Alhamdulillah semua siswa bisa pulang ke kampus dengan selamat dan tidak ada yang mati. Alhamdulillah juga semua panitia sehat ketika pulang. Diklat yang dilaksanakan di Gunung Kencana Bogor kemaren lumayan membuat siswa juga panitia agak kerepotan. Kenapa? karena sempat dihantam hujan deras dengan kondisi lapangan yang semakin parah saja beceknya.

Gunung Kencana yang mungkin sudah beberapa tahun terakhir ini kami gunakan untuk diksar makin parah saja keadaannya. Sekarang sudah banyak camp yang bertambah dan yang pasti merusak hutan yang ada. Jalan-jalan setapak juga sudah bertambah banyak. Pohon-pohon kecil pun banyak yang tumbah karena sabetan parang.
Kami dalam beberapa terakhir ini Alhamdulillah tidak sampai membuat camp baru dengan merusak hutan yang sudah ada. Bivak buat siswa pun sama dengan tahun-tahun yang lalu. Bahkan untuk tahun ini kami membawa bambu sendiri untuk praktek P3K disana ( tahun kemarin kudu motong pohon disana buat tandu ).

Memang untuk beberapa kasus, sebuah diklat akan menjadi sangat penting karena kegiatan ini seakan seperti ibu yang mengandung dan melahirkan anaknya. Seperti apa yang akan dilahirkan akan ditentukan saat-saat diklat ini. Meski tidak semuanya seperi itu. Namun setidaknya kegiatan diklat memang akan sangat mempunyai pengaruh buat pemikiran siswa diklat untuk kedepannya ( IMHO ).

Bercampur baur saat hujan, berbaris bersama saat kepanasan, tidur bersama dibawah bivak saat rintik gerimis itu menyapa.
Persaudaraan yang sudah ditanamkan semoga benar-benar tertanam di benak dan hati mereka. Dan yang paling penting lagi adalah semoga mereka bisa menjaga nya sampai nanti.

asig
828/spa/2008

Pages:12